SELAMA ini banyak orang Indonesia percaya dengan obat China. Tapi, apakah Anda tahu ada faktor X yang membuat obat China terkesan lebih tokcer dibanding obat herbal Indonesia?
Ketika bicara soal obat China, umumnya akan terbersit obat herbal yang sudah dipakai turun temurun. Gak heran obat China diklaim punya khasiat baik bagi kesehatan.

Pada beberapa kasus, penggunaan obat China untuk satu penyakit tertentu dianggap bisa lebih terlihat hasilnya. Ini yang bikin orang-orang semakin percaya dengan obat China.
BACA JUGA:
Tapi, apakah Anda tahu bahwa tidak semua obat China yang dikenal terbuat dari bahan alami itu 'pure' dari bahan alami?
Dijelaskan President of Indonesia Chapter of High Performance Thin Layer Chromatography (HPTLC) Association Udayana University Prof I Made Agus Gelgel Wirasuta bahwa tidak semua obat China itu 'pure' dari bahan alami, meski klaimnya obat herbal.
"Pada beberapa obat China, ada yang menambahkan bahan kimia obat (BKO) dan itu yang bikin orang yang minum obatnya ngerasa lebih cepat efek obatnya bekerja," kata Prof Gelgel saat ditemui MNC Portal.
Ia mencontohkan ada satu obat China yang ditemukan mengandung BKO Diazepam. Diazepam sendiri adalah obat yang termasuk dalam kelompok benzodiazepin. Obat ini bekerja dengan cara meningkatkan aktivitas neurotransmitter tertentu di otak.
Sifat tersebut kerap dapat membantu menurunkan tensi, mengendalikan kecemasan, sulit tidur, hingga sindrom kaki resah. Bahkan, obat jenis ini dipakai juga biasanya untuk sindrom putus alkohol spasmofilia, maupun epilepsi.
BACA JUGA:
"Saya pernah menemukan obat China yang diklaim obat herbal tapi kenyataannya mengandung BKO diazepam. Obat herbal tersebut diklaim dapat menurunkan tensi," kata Prof Gelgel.
Lalu, ada juga obat China untuk penurun flu. Tapi, di dalam obat yang diklaim herbal tersebut ternyata mengandung Dexamethasone atau Paracetamol.
"Jadi, ya, gak 100% terbuat dari bahan herbal. Ini yang bikin beberapa obat China terkesan lebih manjur, efeknya langsung terlihat," ungkapnya.
Padahal, jika suatu obat diklaim sebagai obat herbal, sudah semestinya 100 persen mengandung bahan alami. Sama sekali tidak boleh ada penambahan BKO di dalam obat herbal tersebut.
Hal itu, sambungnya, yang dipegang teguh oleh produsen obat herbal di Indonesia. Regulasi yang ketat membuat obat herbal Indonesia terkesan susah tembus di pasaran dan kalah eksis dibanding obat China atau obat India.