Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Misteri Sosok Raden Mas Iman Soedjono, Keturunan Tionghoa yang Dimakamkan di Gunung Kawi

Avirista Midaada , Jurnalis-Senin, 30 Oktober 2023 |13:02 WIB
Misteri Sosok Raden Mas Iman Soedjono, Keturunan Tionghoa yang Dimakamkan di Gunung Kawi
Pendopo Pesarean Gunung Kawi, tempat Eyang Djoego dan Raden Mas Imam Soedjono dimakamkan (Foto: Humas Yayasan Ngesti Gondo)
A
A
A

PESAREAN Gunung Kawi merupakan tempat wisata religi yang berlokasi di Desa Wonosari, Malang. Di wisata ini terdapat dua makam yang menjadi tujuan para wisatawan yakni makam Eyang Djoego atau bernama asli Kyai Zakaria II dan muridnya Raden Mas Iman Soedjono.

Sosok Eyang Djoego merupakan tokoh agama di masanya. Ia konon merupakan keturunan dari Raden Pakubuwana I yang memerintah di Keraton Mataram dari tahun 1705 sampai tahun 1719. Lantas siapa sosok Raden Mas Iman Soedjono yang juga dimakamkan di area pesarean?

Alie Zainal Abidin selaku Juru bicara Yayasan Ngesti Gondo, menjelaskan, Raden Mas Iman Soedjono merupakan pengawal atau orang kepercayaan dari Kyai Zakaria II. Keduanya juga disebut merupakan anggota laskar Pangeran Diponegoro saat Perang Jawa.

"Mereka berdua memang lari dan menyamarkan diri setelah kalah perang dengan Belanda. Tadinya mereka lari ke Blitar," kata Alie Zainal Abidin, saat berbincang dengan MPI, Minggu, 29 Oktober 2023.

Gapura Pesarean Gunung Kawi

(Foto: Avirista Midaada/MPI)

Di Blitar inilah akhirnya Kyai Zakaria II menyebarkan agama Islam dibantu oleh Raden Mas Iman Soedjono sang pengawal sekaligus bisa dikatakan murid kesayangannya. Raden Mas Iman Soedjono pun mendedikasikan dirinya untuk mengabdi dan menjaga sang tokoh agama itu.

"Raden Mas Iman Soedjono yang sejak awal masa pelarian dari Jawa Tengah itu mendedikasikan hidup beliau untuk takdzim kepada Eyang Djoego," ucapnya.

Konon kata Alie, Eyang Djoego yang merupakan keturunan ningrat juga rela menyebarkan agama Islam berganti nama dengan Eyang Djoego. Hal ini untuk menghindari kejaran dari pasukan Belanda, di masa peperangan. Apalagi Eyang Djoego juga merupakan putra seorang ulama bernama Kyai Zakaria, yang juga turut melakukan perang terhadap Belanda.

Pesarean Gunung Kawi

(Foto: Avirista Midaada/MPI)

"Eyang Djoego adalah putra seorang ulama yang akhirnya juga memilih jalan menjadi seorang pendakwah yang banyak membantu orang yang membutuhkan. Darimana saja bisa datang meminta bantuan beliau," tuturnya.

Dari karomah beliau itulah akhirnya konon banyak masyarakat saat itu hadir dan memeluk agama Islam. Apalagi beberapa masyarakat merasa sang ulama ini memiliki kelebihan dalam hal karomah, karena kedekatannya dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Dan subhanallah ternyata banyak yang masalahnya bisa beres setelah bertemu dengan Eyang Djoego. Yang sakit sembuh, yang fakir mendapat rezeki, yang sedih jadi bahagia," bebernya.

Suatu ketika Eyang Djoego ini sempat berwasiat ke Raden Mas Iman Soedjono yang merupakan pengawal dan santri kesayangannya, untuk dimakamkan di lereng Gunung Kawi.

Kemudian saat Eyang Djoego meninggal pada 22 Januari 1871 itulah, Raden Mas Iman Soedjono melaksanakan wasiat sang guru dan membawanya ke daerah Wonosari, lokasi Pesarean Gunung Kawi saat ini.

Gapura Pesarean Gunung Kawi

(Foto: Avirista Midaada/MPI)

"Ketika meninggal dunia Eyang Djoego berwasiat untuk dimakamkan di puncak bukit yang sebelumnya adalah hutan yang telah dibuka oleh rombongan murid-murid beliau, yang kemudian tempat itu kita kenal hari ini di Pesarean Gunung Kawi tersebut," paparnya.

Cerita lain beredar bahwa Raden Mas Iman Soedjono ini adalah seseorang keturunan Tionghoa yang akhirnya memeluk agama Islam.

Sosoknya diislamkan oleh Eyang Djoego, karena keduanya memiliki kedekatan, termasuk sama-sama berjuang di Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.

Pendopo Makam Eyang Djoego dan Raden Mas Imam Soedjono

(Foto: Humas Yayasan Ngesti Gondo)

"Eyang Djoego ini tidak punya anak, kemudian ia mengangkat Eyang Soedjono ini sebagai angkat angkat karena kedekatannya. Eyang Soedjono sendiri merupakan keturunan Chinese, yang akhirnya memeluk Islam," kata Kadir, pemandu wisata di Pesarean Gunung Kawi.

Dari sosoknya yang keturunan Tionghoa itulah membuat saat ini banyak orang Tionghoa yang berdatangan ke Pesarean Gunung Kawi untuk menghormatinya. Dari sanalah dikatakan Kadir, terjadi akulturasi budaya antara Jawa dan Tionghoa. Bahkan kawasan Pesarean Gunung Kawi ini juga dibangun oleh salah satu pengusaha ternama keturunan Tionghoa.

(Rizka Diputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement