FILM Indonesia Bismillah Kunikahi Suamimu tengah menjadi sorotan netizen saat ini. Sebab ada kejanggalan terhadap hasil tekanan darah dalam cuplikan film tersebut.
Cuplikan tersebut memperlihatkan seorang pasien yang sedang hamil dan mengeluhkan kesehatannya. Setelah di cek, dokter menyebutkan bahwa penyebab masalah kesehatan tersebut berasal dari tekanan darah yang menyentuh angka 143/165.
Hasil tensi darah yang tidak wajar tersebut tentu saja membuat para netizen langsung terheran-heran dibuatnya. Sebab, tekanan diastolik justru lebih tinggi daripada sistolik. Tidak heran, jika sebagian netizen lainnya menganggap hal tersebut adalah lelucon.
Namun, ada pula netizen yang menyayangkan apabila saat pembuatan film, tidak dilakukan research terlebih dahulu hingga menyebabkan kekeliruan.

Terkait hal tersebut, Dokter sekaligus Konten Kreator, dr Nadia Alaydrus memberikan penjelasannya. Menurutnya penyakit yang dimaksudkan dalam film tersebut adalah hipertensi gestasional atau hipertensi yang terjadi pada saat kehamilan.
Dalam kehamilan memang terjadi dua macam hipertensi yaitu hipertensi kronis saat usia kehamilan dibawah 20 minggu, dan hipertensi gestasional diatas 20 minggu.
“Nah ini tuh beresiko mengalami yang namanya preeklamsia. Jadi hipertensi gestasional itu adalah keadaan dimana tekanan darah itu lebih dari atau sama dengan 140/90,” ucap dr Nadia, dikutip dalam Instagram miliknya @nadialaydrus, Rabu (30/8/2023).
Merangkum dari laman resmi Kemenkes, gejala hipertensi gestasional itu sendiri biasanya seseorang akan merasa sakit kepala, kaki bengkak, berat badan naik secara drastis, mual muntah, nyeri perut, dan juga ada perubahan pada penglihatan.
Sehingga, biasanya ibu hamil itu selalu dianjurkan untuk mengurangi asupan garam, mengkonsumsi vitamin c, e, d, dan k secara teratur dan juga rutin melakukan olahraga. Karena apabila kondisi hipertensi pada ibu hamil ditemukan, biasanya akan dilakukan pemeriksaan urin.
“Pemeriksaan urin dilakukan untuk mencari apakah terdapat kebocoran protein pada ibu hamil,” tulis Kemenkes.
Namun, apabila protein tidak ditemukan, ibu hamil disarankan mengkonsumsi obat antihipertensi selama kehamilan. Akan tetapi, apabila didapatkan adanya protein pada urin, maka terapi antihipertensi yang diberikan harus dimaksimalkan.
(Leonardus Selwyn)