TREN dan kemajuan jenis treatment perawatan kecantikan mengalami perkembangan pesat dari hari ke hari. Salah satu contohnya kini, Mesotherapy yang mulai dilirik oleh masyarakat.
Treatment ini sendiri ditemukan orang dermatologis dari Paris, Perancis dan sudah ada sejak era tahun 1960-an. Menariknya, awalnya mesotherapy lebih fokus sebagai treatment mengurangi lemak yang ada di tubuh. Namun kini juga efektif untuk wajah dan rambut.
Spesialis kulit dan kelamin, Dr. Dicky Prawiratama, M.Sc, Sp.KK menjelaskan mesotherapy sendiri adalah perawatan non invasif dengan cara menyuntikkan cairan ke dalam jaringan kulit pada bagian tubuh yang diinginkan.
“Prinsipnya kayak memberi makanan ke kulit, kalau pakai produk oles butuh waktu banyak dan hanya memperbaiki di area permukaan kulit,” ujar dr Dicky saat ditemui awak media di gelaran konferensi pers Mesotherapy dalam Aesthetic Treatment Kalbe, baru-baru ini.
“Tapi kalau mesotherapy ini bisa sampai ke lapisan dalam kulit. Teknik penyuntikan ini tidak memerlukan tindakan pembedahan, lebih efektif, dan aman,” terang dr Dicky.
Menariknya, saat melakukan tindakan tersebut dokter seakan seperti seniman, sebab akan meramu dan menjalankan kombinasi treatment yang sesuai dengan permasalahan kulit.
“Jadi kita kayak barista yang meramu cocktail, dari 12 SKU produk, kita pilih misalnya pasien mau perawatan anti aging dan flek hitam. Bisa dicampur bahan tersebut lalu disuntikkan ke kulit sehingga hasilnya bisa didapatkan sekaligus,” papar dr. Dicky
Sebagai perawatan kecantikan kulit, fungsi mesotherapy seperti diungkap dr. Dicky yakni untuk mencerahkan kulit, memberikan efek bercahaya, anti aging, hingga pertumbuhan rambut. Efek samping yang dimunculkan pun relatif ringan.
“Yang pasti setelah perawatan harus jaga kebersihan wajah. Cuci muka dengan facial wash atau produk pembersih lainnya agar tidak infeksi kalau terjadi sesuatu pada 3-7 hari setelah perawatan, langsung datang ke dokter,” terangnya.
Sementara itu, tidak ada pantangan dari segi makanan usai melakukan perawatan. Namun disarankan untuk tidak mengonsumsi alkohol.
“Harus diingat alkohol memperlambat penyembuhan. Healing prosesnya lebih lambat dan mempengaruhi bahan aktif yang dimasukan ke kulit," pungkas dr. Dicky.
(Rizky Pradita Ananda)