Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kenapa Banyak Warung Kopi di Aceh?

Cita Najma Zenitha , Jurnalis-Sabtu, 06 Mei 2023 |16:00 WIB
Kenapa Banyak Warung Kopi di Aceh?
Peracik kopi saring khas Aceh di Warung Kopi Solong, Ulee Kareng, Banda Aceh. (Foto: ANTARA/Febby Andriyani)
A
A
A

Banyaknya warung kopi di Aceh juga tidak lepas dari sejarah kopi di Indonesia. Berdasarkan sejarah, kopi pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1699 dibawa oleh kapitalis Belanda. Masyarakat Aceh sendiri sudah mengenal tanaman kopi sejak tahun 1804 dari kolonial Belanda.

Namun, masyarakat Aceh baru membudidayakan kopi pada tahun 1908 di dataran tinggi Gayo. Mereka membudidayakan dua jenis kopi yaitu robusta dan arabika. Belanda menjual kopi arabika keluar negeri dan masyarakat mengkonsumsi kopi jenis robusta.

Sejak saat itu, kopi menjadi komoditas unggulan di Aceh Barat. Kondisi alam dan cuaca alam Aceh Barat sangat mendukung perkembangan kopi. Awalnya kopi berkembang pesat di daerah Lamno dan Teunom, Aceh Barat.

 Ilustrasi

Kemudian Belanda memperluas perkebunan kopi di Aceh Barat. Kolonial Belanda membawa biji kopi ke Kota Meulaboh untuk diproses. Setelah itu kopi diekspor ke luar negeri khususnya ke Eropa.

Sampai pada tahun 1924 Belanda telah menjadikan Aceh sebagai tanah penghasil kopi terbesar. Tidak hanya di Pantai Aceh Barat saja, tetapi juga di daerah Gayo. Belanda banyak melibatkan investor dari Eropa.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement