Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sebelum Mudik, Kenali Dulu Penyebab Jet Lag saat Terbang dan 6 Cara Mengatasinya!

Farid Maulana Faqih , Jurnalis-Kamis, 30 Maret 2023 |17:00 WIB
Sebelum Mudik, Kenali Dulu Penyebab Jet Lag saat Terbang dan 6 Cara Mengatasinya!
Ilustrasi (Shutterstock)
A
A
A

SETELAH beberapa tahun penuh tantangan karena harus menghadapi karantina dan pembatasan perjalanan, orang-orang kini kembali menjelajahi berbagai belahan dunia. Keluarga berkumpul, dan para turis mengunjungi berbagai tempat wisata.

Namun, kenikmatan perjalanan panjang sering kali datang dengan konsekuensi yang tidak diinginkan, yaitu jet lag. Hal ini dapat menyulitkan para wisatawan yang ingin menikmati liburan mereka dan menyesuaikan diri dengan rutinitas mereka setelah kembali.

Apa yang menyebabkan jet lag, dan adakah cara untuk mengurangi dampaknya?

Sebelum terbang dengan pesawat untuk mudik Lebaran 2023, Okezoners perlu menyimak ulasannya seputar jet lag sebagaimana dilansir dari CNN Travel.

 BACA JUGA:

Apa yang menyebabkan jet lag?

Istilah jet lag menjelaskan tentang gejala fisik dan psikis yang dialami seseorang saat mereka bepergian dengan cepat melintasi berbagai zona waktu.

Sebelum seseorang melakukan perjalanan, mereka akan disinkronkan dengan zona waktu setempat. Saat berpindah ke zona waktu baru, ritme tubuh yang ada sudah tidak sesuai dengan jam zona waktu lama.

 Ilustrasi

Pada saat inilah gejala jet lag muncul. Orang merasa mengantuk saat harus terjaga, dan terjaga saat harus tidur. Selain itu, terjadi ketidaknyamanan fisik seperti lapar di tengah malam, serta mual jika makan di siang hari.

Selama tubuh dan ritme biologis manusia belum menyatu dengan waktu setempat yang baru, maka secara fisiologis dan mental seseorang akan mengalami gangguan. Tentu saja, hal ini akan sangat mengganggu kenyamanan liburan.

 BACA JUGA:

Jet lag tidak sama bagi sebagian orang

Menariknya, pengalaman jet lag bervariasi di antara orang-orang. Hal ini karena setiap orang memiliki ritme tubuh yang berbeda-beda.

Mayoritas orang memiliki siklus harian alami sekitar 24,2 jam. Jika seseorang tinggal di gua dan tidak melihat cahaya, siklus tidur/bangun dan ritme harian lainnya akan berdetak sekitar 24,2 jam. Peneliti berpikir bahwa ini adalah adaptasi evolusioner yang memungkinkan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan panjang hari yang berbeda sepanjang tahun.

 

Namun, beberapa orang memiliki siklus yang sedikit lebih panjang daripada yang lain, dan hal ini mungkin berperan dalam bagaimana seseorang mengalami jet lag.

 BACA JUGA:

Penelitian menunjukkan, jika seseorang memiliki siklus yang panjang, maka akan lebih cepat juga menyesuaikan diri dengan perjalanan ke arah barat, seperti dari Australia ke Afrika Selatan. Namun, siklus yang lebih pendek belum tentu membantu perjalanan ke arah sebaliknya.

Dengan bertambahnya usia, kekuatan seseorang juga cenderung menurun. Oleh karena itu, orang yang sudah tua dapat mengalami gejala jet lag yang lebih parah.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement