Sesampainya di lokasi kalangan (kandang) kerbau, wisatawan akan disuguhi dengan pemandangan “samudera” atau danau rawa yang disebut warga lokal sebagai lautan tak berujung. Di tempat ini terlihat kumpulan kerbau rawa yang jumlahnya mencapai ribuan ekor.
Hewan ini dilepasliarkan di rawa. Sepanjang hari kerbau rawa menghabiskan waktunya di air untuk mencari makan rerumputan. Tak hanya melihat, wisatawan juga diperbolehkan berinteraksi langsung dengan kerbau rawa ini, seperti naik di atas punggung kerbau rawa yang sekilas mirip kuda nil ini, jika ada nyali.
Beda di gunung, di laut, atau di komplek perumahan, bagi “anak senja”, matahari bumi yang terbenam menjelang magrib di kalang kerbau rawa ini sangat mengesankan. Penikmat sunset , kerbau rawa bersama penggembalanya yang naik perahu motor di sampingnya, menjadi keindahan alam yang begitu sempurna.
“Footage” sunset ini akan terus berganti saat perjalanan pulang dalam pandangan. Bunyi mesin kapal dan suara obrolan menjadi musik mengiringi perjalanan.
Tersebar
Kerbau rawa endemik Asia Tenggara ini tersebar ke Negara Thailand, Tiongkong, Filipina dan Indonesia. Di Indonesia ini, kerbau rawa hanya ada di Pulau Kalimantan dan Sumatera yang memiliki ekosistem rawa lebak-gambut sebagai habitat aslinya. Di Kalimantan, terbanyak ada di Kalimantan Selatan, utamanya di Kecamatan Paminggir.
Menurut data Badan Pusat Statistik (2022) kerbau rawa jumlahnya sekitar 9.000 ekor. Populasi ini tetap terjaga dari generasi ke generasi. Warga Desa Sapala menyebut kerbau tersebut sudah ada sejak zaman kerajaan dulu.
Tak hanya tentang pariwisata, keberadaan kerbau rawa ini juga mengandung ideologi leluhur untuk ketahanan ekonomi yang mampu menopang keberlangsungan hidup anak-cucu.
Contohnya, sebagian besar masyarakat di Desa Sapala, Kecamatan Paminggir mampu menjaga populasi kerbau rawa yang ditaksir jumlahnya mencapai hampir dua ribu ekor. Dari kerbau tersebut, kerbau rawa milik keluarga Firdaus (30), ada sebanyak 27 ekor yang merupakan warisan lintas generasi.
Pekerjaan memelihara kerbau rawa ini sudah dilakukan sejak dia duduk di bangku sekolah dasar. Hampir setiap hari ia dibawa ayahnya ke kalangan untuk mengembala di "lautan rawa". Rutinitasnya dari pagi selesai shalat subuh, membuka kandang - menjelang magrib , memasukkan hewan peliharaan.
Sama halnya dengan Radiani (19) anak terakhir dari empat bersaudara. Sejak umur enam tahun dia sudah dikenalkan dengan kehidupan sejati masyarakat lokal di sana.
Sekarang, ada 20 ekor kerbau rawa milik keluarga Radiani. Dalam waktu dekat ini ia akan sekolah ke Pesantren Darusallam Martapura di Kabupaten Banjar untuk memperdalam ilmu agama. Biaya menuntut ilmu di pondok pesantren di "Kota Serambi Makkah" itu diperoleh dari hasil menjual kerbau rawa tersebut.