Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Apa Dalang dari Fenomena Godoksa, Meninggal Kesepian Para Pria Paruh Baya di Korea Selatan?

Pradita Ananda , Jurnalis-Senin, 26 Desember 2022 |08:20 WIB
Apa Dalang dari Fenomena Godoksa, Meninggal Kesepian Para Pria Paruh Baya di Korea Selatan?
Ilustrasi, (Foto: Freepik)
A
A
A

GODOKSA atau lonely death “meninggal kesepian” tengah terus menjadi perhatian di Korea Selatan selama dekade terakhir ini.

Fenomena yang mengacu pada orang-orang yang hidup sendiri dan meninggal di rumah, lalu meninggal dunia tanpa diketahui orang-orang di sekitarnya. Kematian seperti ini, kerap kali baru diketahui setelab berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, karena kondisi yang bersangkutan tidak terlalu bersosialisasi dengan keluarga, tetangga dan juga teman.

Pada tahun 2021, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea melaporkan sekitar 3.378 “kematian kesepian” alias Godoksa yang mengejutkan publik negeri Ginseng tersebut. Mengutip Nextsharks, Senin (26/12/2022) menurut laporan tersebut, demografi yang paling terpengaruh adalah orang-orang berusia 50-an dan 60-an, mendominasi sekitar 60 persen dari meninggal kesepian yang dilaporkan.

Meski memang, tidak hanya kelompok usia tersebut tapi juga merambah ke semua kelompok usia dewasa termasuk orang yang lebih muda berusia 20-an dan 30-an, yang menyumbang antara 6 sampai 8 persen kematian kesepian di Korea Selatan.

Dari laporan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea di atas, secara jenis kelamin terlihat pria lah yang didapati 5,3 kali lebih mungkin mengalami godoksa, meninggal karena kesepian daripada wanita.

Disebutkan lebih lanjut, fenomena Godoksa terlihat semakin umum terjadi seiring dengan penuaan masyarakat, dengan demografi lebih banyak warga lanjut usia yang hidup sendiri dan jaring pengaman sosial yang tidak layak. 

Menurut sebuah laporan oleh Choi Soo-beom, seorang peneliti di Institut Teknologi Seoul, jumlah kasus yang secara resmi diklasifikasikan sebagai kematian akibat kesepian di Seoul, pada tahun 2021 mengalai peningkata dari 51 pada tahun 2020 menjadi 76 pada tahun 2021. Di antara 127 kematian dalam dua tahun itu, 76,4 persen adalah pria yang hidup sendiri, sebagian besar berusia 50-an dan 60-an. 

Song In-joo, peneliti senior di Seoul Welfare Foundation mencoba mengumpulkan data terkait lonely death di Seoul ini. Disebutkan total 978 kematian orang yang berisiko lebih tinggi meninggal sendirian di Seoul. Dari jumlah tersebut, 65,8 persen (644) adalah laki-laki, sedangkan 34,2 persen atau sekira 334 nya adalah perempuan.

Berdasarkan usia, orang berusia 60-an menyumbang 29,1 persen (265), diikuti oleh orang berusia 50-an dengan 19,3 persen dan 70-an dengan 19 persen dan 95,4 persen, atau 933 orang tak memiliki pekerjaan.

Terjadinya perubahan mendadak dalam hidup para pria paruh baya, yang dipicu berbagai faktor dinilai Song In-joo, jadi dalang atas fenomena Godoksa di salah satu negara maju di Asia Timur tersebut.

“Pria paruh baya yang meninggal sendirian telah dipaksa melakukan penggusuran, mengalami kondisi kerja yang buruk dan mengalami pensiun mendadak, yang menyebabkan perubahan tiba-tiba dalam kehidupan sehari-harinya, dan menjadi kelompok risiko kematian yang kesepian,” ujar Song In-joo, dikutip dari Korea Joongang Daily.

 

Hal ini selaras dengan laporan Seoul Welfare Foundation, yang menunjukkan bahwa 52 persen kematian godoksa ini terjadi di area ‘miskin’, apartemen dengan harga sewa rendah. Laporan yang sama menunjukkan bahwa 95 persen orang yang meninggal karena kesepian adalah pengangguran.

Fenomena godoksa ini disebutkan serupa dengan "Kodokushi", atau "mati sendirian", yang banyak terjadi di Jepang. Pejabat pemerintah di sana juga mengaitkan peningkatan kematian akibat kesepian ini, dengan populasi yang menua (lebih banyak orang tua dibandingkan generasi muda) dan meningkatnya isolasi sosial terhadap orang tua. Begitu pun di Hong Kong, di mana semakin banyak lansia yang hidup terisolasi, kematian karena kesepian juga diperkirakan akan meningkat.

Beberapa pihak menyakini, kemajuan teknologi bisa jadi salah satu solusi untuk membantu mengurangi jumlah kematian kesepian ini. Contohnya yang digunakan di Korea yakni smart plug device atau “perangkat steker pintar” yang bisa mendeteksi jika listrik di rumah tidak digunakan selama jangka waktu tertentu, atau jika pencahayaan di ruangan tetap konsisten untuk waktu yang tidak biasa.

Kabarnya kini disebutkan, pemerintah juga sedang mencari cara untuk menggunakan teknologi AI dengan cara yang sama, sebagai salah satu solusi menekan laju angka kematian kesepian di antara para penduduknya tersebut.

 BACA JUGA:Studi: Dapat Lebih Banyak Waktu untuk Tidur, Tingkatkan Kebahagiaan dalam Hidup

BACA JUGA:Studi: Orang yang Bangun Pakai Alarm Cenderung Alami Kelelahan Kronis

(Rizky Pradita Ananda)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement