Sebanyak 200 tenda didirikan untuk sarana akomodasi 1.200 peserta camp. Sebagian tenda merupakan aset yang dimiliki dan dikelola oleh anggota Pokdarwis setempat, sisanya dimiliki oleh vendor.
“Singkat cerita, camp ini berlangsung dengan aman, siang hari para peserta sudah pulang. Ketika peserta pulang, terjadilah gempa bumi yang meluluhlantahkan hampir seluruh kawasan Cianjur yang menyebabkan rumah warga hancur dan mereka menjadi pengungsi,” ungkap Fadjar Hutomo.
Tenda-tenda yang sudah didirikan belum dibongkar, dan secara langsung penghuninya berganti dari peserta camp menjadi pengungsi. Masyarakat memanfaatkan tenda-tenda yang ada sebagai tempat pengungsian.
Menurut dia, kejadian tersebut menunjukkan fasilitas atau sarana akomodasi pariwisata mampu menjadi infrastruktur tanggap darurat. Karena itu, penetapan kawasan Taman Langit Gunung Banyak sebagai shelter tourism merupakan perwujudan dari manajemen krisis kepariwisataan di destinasi.
“Kejadian ini menyadarkan kita bahwa kita hidup di atas bentang alam yang seperti dua sisi mata uang. Indah, sejuk, dingin, nyaman, tapi di sisi lain ada potensi kebencanaan. Bukan untuk ditakuti karena memang ini adalah berkah, tetapi untuk kita persiapkan ketika kita menghadapi hal-hal yang tidak terduga,” ucap Fadjar.
(Salman Mardira)