SETELAH China dan Jepang, kini Korea Selatan (Korsel) yang mengalami resesi seks. Kondisi ini sudah terjadi sejak tahun 2019 hingga sekarang.
Bahkan beberapa kali Korsel mengalami jumlah kematian lebih banyak daripada kelahiran. Di tahun 2019, angka kelahiran berada di angka 275.815, sedangkan kematian 307.764.

Sebulan sebelumnya, data mengungkapkan hampir satu dari lima pasangan yang menikah pada 2015 masih belum memiliki anak. Menurut Statistics Korea, sekitar 18 persen dari 216.008 pasangan yang menikah tahun itu belum memiliki anak.
Padahal dibandingkan tahun 2012, hanya 13 persen yang belum punya anak. Pada tahun 2019, tingkat kesuburan Korsel yang diukur dari rata-rata jumlah anak yang dimiliki seorang wanita selama hidupnya mencapai 0,92.
Angka ini terendah di antara negara-negara Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Dikutip dari The Guardian, ada beberapa penyebab terjadinya resesi seks di Korea Selatan. Tuntutan wanita untuk selalu tampil cantik, menjaga berat badan dan "mengurus" diri, membuat mereka berpikir ulang untuk memiliki anak.
Selain itu, sudah banyak wanita Korsel yang memilih untuk menjadi wanita karir.
“Karena banyak wanita Korea Selatan memiliki pekerjaan akhir-akhir ini, mereka enggan memiliki bayi karena sangat sulit untuk bekerja dan membesarkan anak pada saat yang bersamaan,” kata Kim Seong-kon, seorang profesor emeritus bahasa Inggris di Universitas Nasional Seoul, dikutip dari The Guardian.
Seong-kon juga menambahkan, wanita hamil harus menghadapi kerugian serius saat bekerja di Korsel. Lebih buruk lagi, banyak fasilitas penitipan anak yang tidak dapat dipercaya. Ini menjadi problem serius yang dihadapi wanita sehingga memilih tak punya anak.
(Vivin Lizetha)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.