3.Kota Gandrung
Julukan ini disematkan pada Banyuwangi karena tarian khasnya, tari Gandrung. Pada masanya, tarian ini dibawakan Suku Osing, penduduk asli Banyuwangi, sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Julukan Banyuwangi. (Foto: Taman Gandrung Terakota, Banyuwangi/Instagram/@bragasta_ma)
Tari Gandrung dibawakan berpasangan antara perempuan yang disebut penari gandrung dan laki-laki alias pemaju. Namun mengutip buku Joh Scholte berjudul Gandroeng van Banjoewangi, tarian ini berkembang menjadi tari Gandrung lanang yang dibawakan laki-laki berpakaian perempuan.
Namun tarian Gandrung lanang ini perlahan menghilang ketika ajaran Islam yang masuk ke Blambangan. Namun tarian Gandrung lanang ini baru benar-benar hilang sekitar tahun 1914. Sementara tarian Gandrung perempuan masih terpelihara hingga kini.
BACA JUGA: Belitung Jadi Tuan Rumah Pertemuan Maritim Dunia 2022, Dihadiri 22 Negara
4.Kota Using
Pada 1764, Blambangan diserang oleh kerajaan lain di sekitarnya yang membuat penduduknya melarikan diri dan tersebar ke beberapa tempat. Mengutip jurnal Evan Permana berjudul Tribute to East Java Heritage, sebagian hijrah ke lereng Gunung Bromo dan kini dikenal sebagai suku Tengger.
Lainnya, melarikan diri ke Bali dan beberapa memilih tetap bertahan di Kerajaan Blambangan. Penduduk yang tetap bertahan inilah yang merupakan cikal bakal suku Osing di Banyuwangi. Saat ini, suku Osing ini masih bisa ditemukan di kawasan Desa Kemiren.