Agus Noor menambahkan, memecahkan teka-teki sebenarnya hal mengasyikkan yang selalu digemari manusia dari masa ke masa. Para pembaca buku fiksi pasti juga familiar dengan cerita- cerita misteri pembunuhan seperti Sherlock Holmes dan karya-karya Agatha Christie. Itu cerita-cerita klasik yang masih digemari hingga sekarang.
"Saya rasa, masyarakat Indonesia perlu untuk terus mengasah keingintahuan akan pemecahan persoalan untuk menguak kebenaran, karena banyak sekali sebenarnya kasus-kasus kejahatan yang tak terpecahkan di sekitar kita. Di pertunjukan ini, dengan style Indonesia Kita, kami mau mengajak penonton untuk sama-sama jadi detektif," katanya.

Selaras dengan Agus Noor, pendiri Indonesia Kita, Butet Kartaredjasa yang akan ikut tampil di pertunjukan ke-38 ini, menyatakan antusiasmenya akan cerita yang berbeda kali ini. “Tahun ini, Indonesia dihadapkan dengan kasus-kasus kejahatan yang luar biasa dan seolah-olah fiktif. Seakan-akan itu terjadi hanya di cerita-cerita novel.
Meski sudah tiba di pengadilan sekali pun, ada kasus-kasus yang sampai sekarang masih membuat masyarakat bertanya-tanya tentang motif dan hal-hal lainnya. Padahal kasus-kasus kejahatan ini sudah ada dari zaman dulu. Hanya saja banyak kekuatan-kekuatan yang menjadikan kasus-kasus ini tetap misteri.
"Saya senang sekali kita ada dalam rezim yang memberikan masyarakat kesempatan untuk kembali berani dan kritis untuk menyoroti dan berpendapat pada kasus- kasus kejahatan yang terjadi saat ini,” ujar Butet Kartaredjasa.