LAPORAN Faunalytics memetakan analisis hambatan paling umum yang dihadapi oleh orang-orang yang baru mengadopsi pola makan vegan dan vegetarian dan cara yang paling efisien serta strategi untuk mempertahankannya. Usai mensurvei 222 peserta, para peneliti menemukan bahwa beberapa hambatan yang paling sering disebutkan adalah terkait dengan alasan kesehatan dan kesulitan dalam memberi label atau identitas sebagai seorang vegan, dan yang lainnya.
“Karena sebagian besar informasi pola makan berbasis nabati lebih sering muncul dalam isu yang terkait dengan kesejahteraan hewan, masih banyak orang mungkin tidak terlalu paham dengan manfaat kesehatan dan pola makan berbasis nabati dan komunitas di sekitarnya, yang bukan hanya memberikan dukungan transisi ke pola hidup yang bebas akan kekejaman, namun juga identitas sebagai seorang vegan,” ujar Among Prakosa Manajer 21 Hari Vegan di Act For Farmed Animals (AFFA).

Menurut penelitian, orang yang khawatir dengan kesehatannya saat beralih ke pola makan berbasis nabati, memiliki kesempatan tiga kali lebih mungkin untuk meninggalkan pola makan tersebut dalam enam bulan pertama.
“Adanya persepsi bahwa kita membutuhkan susu sapi untuk mendapatkan asupan kalsium, dan daging merah untuk mendapatkan protein, menjadikan kita percaya bahwa kita akan menjadi lemah tanpanya. Padahal hal tersebut tidaklah benar,” jelas Among.