TATO tubuh bagian dari tradisi wanita suku Belu di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perempuan Belu memang mencintai seni. Mentato tubuhnya dianggap bagian dari kecantikan. Selain itu, tato bagi wanita Belu adalah simbol kedewasaan.
Saat usia remaja dan beranjak dewasa, wanita Belu diizinkan mentato tubuhnya. Mereka cenderung melukis bunga di tubuhnya serta motif-motif berulang seperti halnya menenun atau membatik, sehingga akan membuat ukiran cantik di tubuhnya.
BACA JUGA:5 Tradisi Unik Orang Sumba, dari Prosesi Pernikahan hingga Kematian
Pembuatan tato tidak sembarangan. Sebelum wanita Belu membuat tato di tubuhnya, maka akan dilaksanakan upacara adat terlebih dahulu.
Terkadang, tato dibuat saat suasana berkabung dari kematian sanak saudara.
BACA JUGA:Uniknya Noken Anggrek, Tas Tradisional Papua Seharga Motor Second
Proses membuat tato dilakukan malam hari, tepatnya saat para pelayat terjaga di rumah duka.
Kemudian waktunya pun tidak singkat karena tato harus digambai manual lebih dulu untuk membuat pola awal, sebelum akhirnya diukir menggunakan alat.
Perlu diketahui, pola tersebut dibuat menggunakan tinta yang berasal dari endapan asap pelita yang mengumpul di loteng rumah penduduk lalu diber air. Menariknya lagi, ‘tinta’ tato tersebut tidak mudah memudar dari kulit empunya meski hingga usia tua.

Selanjutnya, setelah pola tergambar dengan ‘tinta’, pola tersebut akan dibuat permanen dengan duri pohon maja sebagai alatnya.
Duri ini akan ditusuk-tusukan ke kulit mengikuti pola yang ada, bertujuan agar tinta meresap masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam dan menjadi tahan lama.
(Salman Mardira)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.