Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gara-Gara Stigma Negatif, Orang dengan TBC RO Rentan Mengakhiri Hidupnya

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Rabu, 19 Oktober 2022 |10:00 WIB
Gara-Gara Stigma Negatif, Orang dengan TBC RO Rentan Mengakhiri Hidupnya
Ilustrasi pasien TBC, (Foto: Freepik)
A
A
A

MESKI zaman sudah maju dan modern, dengan akses informasi valid yang bisa didapatkan dengan mudah, tahukah Anda, bahwa nyatanya masih ada stigma buruk dan mistis di masyarakat terhadap orang dengan TBC RO (TBC Resisten Obat)

Menurut laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, stigma negatif yang masih kental dan berkembang adalah orang dengan TBC RO merupakan orang susah.

Stigma negatif dan keliru inilah yang akhirnya membuat orang-orang dengan TBC RO tak mau pergi berobat karena cemas penyakitnya diketahui orang lain seperti tetangga sekitar.

Tidak stop sampai situ, stigma lainnya yang melekat pada TBC ataupun TBC RO ialah sebagai penyakit yang memalukan dan masih ditambah stigma lainnya, yakni batuk berdarah yang menjadi salah satu gejala khas TBC RO dianggap sebagai suatu kutukan.

"Misalnya kena TBC RO sampai batuk berdarah, sering dianggap sebagai kutukan atau kena guna-guna,” ungkap dr. Siti Nadia Tarmizi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Indonesia.

“Jadi, persepsi ini yang menghambat pasien mengakses pengobatan," tambahnya.

Stigma-stigma tersebut akhirnya perlahan tapi pasti, membuat orang dengan TBC RO merasa tidak layak mengobati penyakit yang terus menghancurkan tubuhnya tersebut.

Tahukah Anda, merujuk pada data penelitian para peneliti Stop TB Partnership Indonesia (STPI) menunjukkan bahwa sebagian orang dengan TBC RO terpikir untuk menghabisi nyawanya sendiri alias bunuh diri.

Melihat data studi di atas, artinya dampak psikis ini nyata di lapangan dan salah satu penyebab utamanya adalah stigma negatif yang ditujukan kepada pasien.

"TBC RO bukan hanya memberi dampak fisik ke pasien, tapi juga psikis, salah satunya keinginan bunuh diri," terang anggota peneliti STPI Dena Sundari Alief, dalam konferensi pers virtual, baru-baru ini.

Bukan hanya itu, Dena melanjutkan dampak psikis lainnya yang dialami orang dengan TBC RO adalah merasa depresi dan anxiety, bahkan halusinasi.

“Kondisi itu bukan hanya bagian dari efek samping obat yang dikonsumsi dalam jangka panjang, tapi juga efek dari sosial di masyarakat,” lanjut Dena.

Misalnya pengalaman dari Paran Sarimita Winarni, penyintas TBC RO. Dengan terbuka ia pernah mengidap anxiety dan depresi karena penyakit tersebut. Ia merasa masalah dalam hidupnya tidak pernah berhenti datang.

"Masalah seperti datang tiada henti. Bukan hanya berjibaku dengan penyakit TBC RO, tapi juga menyadari bahwa tidak lagi bekerja, bikin mental saya terganggu," terangnya di sesi Webinar bersama Kemenkes belum lama ini.

Paska sembuh dari TBC RO pun, masalah kesehatan mental masih menyelimuti Paran.

"Saya masih mengalami mental health issue, jadi masih ada perasaan feeling insecure, tidak bisa bersosialisasi dengan baik, dan itu masih tersisa," tambahnya.

Menyadari hal tersebut, Paran bergeran mencoba mencari cara untuk bisa benar-benar pulih. Akhirnya dia memutuskan bergabung dengan komunitas penyintas TBC RO.

"Setelah gbaung dengan komunitas penyintas TBC RO, saya merasa jauh lebih baik. Ya, mungkin karena saya merasa orang-orang yang ada di komunitas, mengerti dan bisa merasakan menjadi bagian dari orang dengan TBC RO," tutup Paran.

BACA JUGA:Waduh! Pria Ini Alergi Spermanya Sendiri, Super Apes?

BACA JUGA:Didiagnosa Alergi Air, Gadis Remaja Ini Merasa Terbakar Saat Kulitnya Basah

(rpa)

(Kemas Irawan Nurrachman)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement