PULAU Paskah (Rapa Nui) adalah pulau indah yang penuh dengan misteri dan keajaiban. Sejarah dan ilmuwan telah menghabiskan puluhan tahun mencoba memahami geologi dan budaya pulau itu, dan menguraikan makna di balik patung moai raksasa yang dibangun oleh orang-orang Rapa Nui awal.
Dari asal-usul penghuni pertama hingga penemuan ‘kepala Pulau Paskah’, berikut 6 fakta Pulau Paskah, sebagaimana dilansir dari Trafalgar.
1. Punya beberapa nama berbeda
Laksamana Belanda, Jacob Roggeveen, menjadi orang Eropa pertama yang mendarat di pulau terpencil ini pada Minggu Paskah tahun 1772, dan kemudian menamainya ‘Paasch-Eyland’ yang merupakan bahasa Belanda untuk 'Pulau Paskah' sebagai penghormatan.
Namun, nama asli pulau tersebut adalah Rapa Nui (Rapa Agung). Penduduk asli pulau menggunakan nama ini untuk pulau mereka, dan mereka akhirnya juga dikenal sebagai Rapa Nui.
Ada juga nama yang lebih tua untuk Pulau Paskah, yaitu Te Pito O Te Henua, yang berarti ‘Pusar Dunia’. Ada teori yang menyebutkan bahwa nama Rapa Nui merupakan nama pada pertengahan abad ke-19, ketika perampok budak Peru membandingkan pulau itu dengan pulau Rapa di Polinesia Prancis.
2. Pulau terpencil di dunia
Terletak di tenggara Samudra Pasifik, 3.800 km di lepas pantai tetangga terdekatnya, Chilli, Pulau Paskah adalah salah satu pulau berpenghuni paling terpencil di dunia. Pulau tersebut tetap menjadi wilayah Chili, tetapi masih membutuhkan setidaknya lima jam untuk sampai ke Pulau Paskah.

(Foto: Instagram/@nivieremike)
Satu-satunya cara untuk sampai ke sana adalah dengan pesawat, karena pulau tersebut tidak memiliki pelabuhan. Penerbangan terpendek adalah lima jam dari Santiago. Jika terbang dari Tahiti, dibutuhkan waktu perjalanan hingga tujuh jam.
Namun, dengan keberadaannya yang jauh, suasana di Pulau Paskah menjadi tenang dan damai. Selain itu, juga terbebas dari polusi, dan yang paling menyenangkan adalah perairan di pulau tersebut menjadi yang paling jernih di dunia.
Perairan di sekitar pulau ini transparan hingga kedalaman 50 sampai 60 meter. Ini adalah oasis bagi para perenang snorkel dan penyelam untuk mengagumi terumbu karang berwarna-warni, dan kehidupan bawah lautnya.
3. Kepala Suku Polinesia pertama kali menetap ratusan tahun lalu
Legenda mengatakan bahwa kepala suku pemberani, Hotu Matu'a, memimpin rakyatnya ke Pulau Paskah sekitar 800 hingga 1.700 tahun lalu.

(Foto: Instagram/@taispozza)
Kepala suku dan orang-orangnya berasal dari Pulau Hiva di Polinesia (sekarang diyakini sebagai Kepulauan Marquesas), dan berlayar ke Pulau Paskah dengan kano besar.
Mereka menetap di pulau itu, memperkenalkan spesies baru, seperti pisang, tebu, dan ayam. Mereka tinggal jauh dari belahan bumi lainnya selama beberapa generasi, sampai penjelajahan Eropa tiba.
Diyakini bahwa telah ada populasi dengan jumlah ribuan yang hidup di pulau tersebut selama bertahun-tahun. Namun, setelah terjadinya perang saudara yang menghancurkan populasi, epidemi, perbudakan, kelaparan, dan penggundulan hutan, hanya 111 orang yang tersisa pada tahun 1877.
Saat ini, ada sekitar 8.000 orang yang tinggal di pulau itu, dan hampir setengahnya menganggap diri mereka sebagai penduduk asli Rapa Nui.