5. Goa Belanda – Jepang di Bandung
Bandung juga memiliki destinasi wisata bersejarah kejahatan perang, yaitu Goa Belanda – Jepang. Goa ini berlokasi di Taman Hutan Raya Ir Juanda, Dago Atas, Bandung.
Diketahui, goa ini dibangun oleh Belanda pada awal 1941 dan difungsikan sebagai area persembunyian Belanda dari serangan udara. Dulu, lorong-lorong di goa ini menjadi saksi bisu tewasnya ratusan pekerja paksa atau romusha. Mereka tewas dalam proses pembangunan goa ini selama tiga tahun.
Tak hanya itu, goa ini juga menjadi tempat terbunuhnya ratusan prajurit Jepang yang dibantai oleh sekutu di akhir 1945.
6. Pulau Morotai di Maluku Utara
Peninggalan kejahatan perang yang ada di Indonesia tak hanya berupa bangunan dan wisata alam namun juga pulau. Salah satunya adalah Pulau Morotai di Maluku Utara.

Pulau Morotai
Pulau yang berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik ini menjadi basis tentara Jepang untuk melawan Sekutu. Tak heran jika saat bertandang ke pulau ini tampak berbagai benda peninggalan Perang Dunia Ke-II.
7. Pulau Biak di Papua
Selain Pulau Morotai, tempat bersejarah kejahatan perang selanjutnya adalah Pulau Biak di Papua. Pulau ini juga menjadi salah satu tempat berlangsungnya penyerangan tentara Jepang melawan sekutu dalam Perang Dunia Ke-II.
Bagaimana tidak, disini ditemukan beragam sisa-sisa peperangan yang masih terjaga, seperti peluru, meriam dan alat peperangan lainnya.
Tak hanya itu, di pulau ini juga banyak ditemukan ribuan tulang belulang manusia yang dipercaya sebagai tulang para tentara Jepang yang tewas diserang sekutu. Hingga kini, banyak wisatawan Jepang yang datang ke Pulau Biak, beberapa dari mereka mengambil tulang belulang tersebut untuk dibawa pulang.
8. Pulau Nusa Barong di Jember
Pulau Nusa Barong yang berada di Jember, Jawa Timur ini terkenal lantaran keindahan pantainya. Bahkan, pulau ini kerap disamakan dengan Phi-Phi Island yang ada di Thailand.
Meski begitu, dibalik keindahannya Pulau Nusa Barong ternyata menjadi tempat bersejarah kejahatan perang. Dulunya pulau ini diperebutkan lantaran menjadi penyokong perekonomian di masa Kerajaan Blambangan.
Lantara potensinya ini, Belanda akhirnya tertarik untuk menguasainya. Saat berusaha menguasai pulau ini, pada 1777 pecahlah pertempuran yang memakan banyak korban.
Alhasil, setelah peperangan tersebut, muncul larangan bagi penduduk untuk mengunjunginya hingga 1920, pulau ini diresmikan sebagai kawasan cagar alam.