Karena itu, ia yakin bahwa keluarga pada akhirnya selalu menjadi obat utama semua permasalahan. "Jadi memang kuncinya dari kasih sayang, dari situ bisa muncul namanya penerimaan, keikhlasan, bisa muncul upaya maksimal. itu dari kasih sayang," ujarnya.
Bisa dibilang, membesarkan Marvin menjadi titik balik kehidupan Sylvia. Ia akhirnya melanjutkan kuliahnya yang sebelumnya sempat terputus. Karena pengalaman membesarkan Marvin, dia memilih mengambil jurusan psikologi.
Pada 2021 lalu, Sylvia mendirikan Yayasan Pendidiakn Kesehatan Mental. Lewat lembaga itu, ia ingin membantu keluarga lain yang punya anak berkebutuhan khusus. Dia sadar banyak keluarga bingung ketika mendapat anugerah anak berkebutuhan khusus. Pelajaran itu yang ia ambil dari periode awalnya membesarkan Marvin.
"Karena saya pernah mengalaminya meski pengalaman saya enggak seberapa. Saya ingin berbagi dengan keilmuan yang saya punya," ujar perempuan yang beberapa tahun lalu menyelesaikan studinya di bidang psikologi.
Ia juga ingin mendorong literasi masyarakt seputar kesehatan mental. Kata dia, hanya pendidikan yang bisa membantu mengikis stigma. Dengan begitu, akan tercipta lingkungan yang suportif dan inklusif. Iklim semacam itu akan sangat membantu keluarga dengan anak berkebutuhan khusus.
“Apa pun kondisnya, anak itu berkah. Dan orang tua yang dikaruniai anak berbeda dengan yang lain jadi punya kesempatan buat belajar. Sampai sekarang saya masih terus belajar,” katanya.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.