Di laboratorium ini nantinya bibit-bibit Anggrek dikembangkan demi memenuhi permintaan pasar yang dinilai berlebih. Pasalnya selama ini kebutuhan Anggrek banyak dipenuhi dari pasar impor dari Thailand dan Taiwan. Hal ini membuat pihaknya berinisiatif membuat laboratorium dengan standar internasional.
"Kita masih impor, masih 36 juta bibir pertahun dari Thailand. Supply demand kita nggak imbang, setahun se Indonesia (cuma produksi) 10 juta belum terpenuhi, masih njomplang (antara permintaan dan kebutuhan)," jelasnya.
Pengembangan Anggrek itu melibatkan tim riset sendiri yang bekerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi di Malang. Tercatat ada lima jenis Anggrek yang dikembangkan dan dijual di Taman Arjuno. Mulai dari Dendrobium, Phalaenopsis, Cattleya, Vanda dan Grammatophy.
"Anggrek itu termasuk bunga kategori mahal. Kemudian harganya juga stabil, serta pasarnya selalu ada. Makanya kami coba kembangkan. Saat ini baru di angka 2,5 juta bibit, ke depan diharapkan mampu memproduksi 10 juta bibit," tukasnya.
(Kurniawati Hasjanah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.