Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sandiaga Ajak Pelaku Parekraf Aktif Tangani Sampah Makanan demi Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan

Novie Fauziah , Jurnalis-Sabtu, 09 Juli 2022 |11:02 WIB
Sandiaga Ajak Pelaku Parekraf Aktif Tangani Sampah Makanan demi Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan
Menparekraf RI, Sandiaga Salahuddin Uno (Foto: Kemenparekraf)
A
A
A

MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno mengajak pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif untuk aktif berperan dalam penanganan sampah makanan (food loss and waste) pada sektor pariwisata dalam upaya mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan.

Ia menegaskan, komitmen Kemenparekraf/ Baparekraf untuk berperan aktif dalam upaya mengatasi isu perubahan iklim.

Salah satunya dengan penyelenggaraan kegiatan FGD Pengelolaan Food Waste pada industri pariwisata, dilaksanakan dengan berlandaskan pada arahan Presiden Republik Indonesia pada KTT G20 di Roma, Italia.

Di mana Indonesia melalui G20 ingin menjadi contoh dalam mengatasi perubahan iklim, dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan dengan tindakan nyata.

BACA JUGA: Sandiaga Uno Tegaskan Tiket Masuk Pulau Komodo Rp3,75 Juta Baru Sebatas Wacana

“Hari ini kita memulai suatu langkah baru secara betul-betul all out, kita totalitas untuk menangani pariwisata yang berkelanjutan. Kemenparekraf berupaya untuk mengatasi perubahan iklim yang berasal dari FLW dengan seluruh stakeholder industri pariwisata melalui inovasi, adaptasi, dan kolaborasi,” katanya saat menghadiri kegiatan Focus Group Discussion (FGD) 'Pengelolaan Food Waste pada Industri Pariwisata' di The Patra Bali Resort & Villas.

Sandiaga menjelaskan, berdasarkan data dari The Economist Intelligence, tercatat Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia, selain Arab Saudi, dan Amerika Serikat.

Catatan tersebut juga didukung dari hasil kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dengan sejumlah lembaga mengenai hasil studi komprehensif terkait Food Loss and Waste (FLW) di Indonesia pada 2021.

Menurut kajian tersebut, kata dia, sampah makanan yang terbuang di Indonesia sejak 2000 hingga 2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun, atau setara 115-184 kilogram per kapita per tahun. Besarnya intensitas makanan yang terbuang itu menjadi sampah, tentunya berdampak terhadap beberapa sektor seperti ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Lebih lanjut, akibat sampah makanan ini negara setidaknya mengalami kerugian ekonomi yang mencapai Rp213 hingga Rp551 triliun per tahun atau setara dengan 4-5 persen PDB Indonesia.

“Dengan penanganan sampah makanan kita menginginkan bisa mengatasi masalah masyarakat yang mulai terbebani masalah ekonomi. Kalau dilihat sangat ironis ya harga cabai mahal, bahan makanan mahal tapi kita buang-buang di sini. Oleh karena itu harus ada perubahan perilaku,” tuturnya.

Mantan Wagub DKI Jakarta itu berharap, melalui FGD ini akan menciptakan solusi dan langkah menangani food loss and waste pada industri pariwisata. Serta seluruh stakeholder di industri pariwisata, yang terdiri dari pelaku usaha pariwisata, khususnya pelaku usaha hotel, restoran dan kafe, pemerintah, akademisi, media hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk dapat berperan dalam upaya penanganan tersebut.

(Rizka Diputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement