Saat menunjukkan pukul 15.00, penerbangan akhirnya dibatalkan, dengan beberapa penumpang yang marah menuntut jawaban. Monique mengingat alasan yang diberikan berbeda dari masalah awal dengan pihak maskapai.
Mereka mengatakan; "Masih ada beberapa masalah lain dengan beberapa kursi di pesawat, jaket pelampung di bawah kursi dan paket oksigen tidak keluar jadi itu adalah masalah keamanan dan kami tidak bisa lepas landas sampai itu diperbaiki,” terangnya.
Beberapa penumpang kemudian protes mengapa alasannya tidak sinkron dengan alasan di awal. Pihak maskapai lantas hanya menjawab enteng; “Segera setelah masalah teratasi, kami dapat mencoba membawa Anda ke penerbangan lain," kata Monique menirukan perkataan kru kabin.
Monique dan penumpang lainnya lalu menunggu tiga jam lagi sampai mereka diberitahu kapan penerbangan baru dilakukan. Selanjutnya, sekitar pukul 19.30 mereka diberi kabar akan dialihkan ke penerbangan berikutnya pukul 22.00, namun lagi-lagi menemui kendala.
"Untuk melakukan ini, itu berarti kami harus meninggalkan terminal, mengambil kembali barang bawaan kami dari sabuk dan melewati pemeriksaan paspor seolah-olah kami akan sudah kembali dari perjalanan, dan kemudian berjalan di sekitar terminal dan check-in lagi. Dan semua itu sangat kacau,” keluhnya.
Alhasil, Monique memutuskan pulang dengan perasaan galau berat tanpa membawa kembali barang bawaannya ke rumah.
(Rizka Diputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.