Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Siapa Saja Orang yang Berisiko Alami Gangguan Bipolar?

Dyah Ratna Meta Novia , Jurnalis-Selasa, 28 Juni 2022 |16:14 WIB
Siapa Saja Orang yang Berisiko Alami Gangguan Bipolar?
Orang berisiko mengidap bipolar (Foto: Thinkstock)
A
A
A

ARTIS Marshanda sempat dikabarkan menghilang di Amerika, walaupun kini sudah ditemukan dalam keadaan sehat-sehat saja.

Seperti diketahui masyarakat, artis cantik tersebut mengidap penyakit bipolar.

 marshanda

Nah, dr Jap Mustopo B SpKJ dari Rumah Sakit Mayapada, Tangerang menjelaskan, para penderita bipolar perasaan senang dan sedih muncul secara tidak menentu. Ini bisa berlangsung tiba-tiba.

Bipolar itu sendiri adalah gangguan afektif bipolar. Mood atau keadaan emosi internal merupakan penyebab utama dari gangguan ini.

Lalu, siapa saja orang yang berisiko terkena gangguan Bipolar?

Orang yang berisiko mengalami gangguan bipolar adalah mereka yang mempunyai anggota keluarga mengidap penyakit bipolar. Faktor genetik dianggap berperan dalam gangguan bipolar karena kondisi ini cenderung diwariskan dalam keluarga. Jika orangtua atau saudara kandung mengalami gangguan ini, maka Anda memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalaminya.

Selain itu orang yang berisiko kena Bipolar juga orang yang pernah mengalami bullying, pernah mendapatkan kekerasan seksual yang menimbulkan trauma.

 BACA JUGA: Marshanda Sudah Ditemukan, Berapa Lama Fase Manic Biasanya Berlangsung?

Orang dengan depresi musiman, atau punya gangguan kecemasan juga lebih berisiko mengalami bipolar.

Lalu bagaimana penanganan Bipolar?

Sebelum melakukan penanganan terhadap gangguan bipolar, biasanya terlebih dahulu dilakukan diagnosa dengan memperhatikan secara seksama gejala, tingkat ketakutan, angka waktu, dan frekuensi. Dan gejala yang paling mudah untuk dikenali adalah gejala peralihan mood yang tinggi (dari yang tinggi ke rendah) yang tidak berpolar.

Gangguan bipolar ini merupakan gangguan jangka panjang yang membutuhkan penanganan komprehensif. Mereka yang memiliki empat atau lebih perubahan mood dalam setahun lebih sulit untuk ditangani.

Menurut dr Jap, seorang pasien yang mengalami gangguan bipolar bisa sembuh. Dalam empat fase itu pasien bisa menjalankan terapi. Tapi jika tak berhasil atau mebahayakan, diperlukan penanganan khusus di rumah sakit khusus atau tempat rehabilitasi mental. Biasanya psikoterapi berupa terapi perilaku-kognitif menjadi pilihan," ungkapnya.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement