"Kontrak dengan PT Pagilaran selama 15 tahun dengan biaya Rp15 juta. Itu saya harus lakukan demi menyekolahkan anak kuliah. Ini terjadi pada 2000 hingga 2015," ungkap Sarimin.
Nah, dari 2015 hingga sekarang kebun teh di area rumahnya kini dikelola sendiri oleh Sarimin dan kelompok taninya.
Di momen ini, Sarimin menjelaskan kalau proses pengolahan teh yang dilakukannya masih ada yang tradisional. Artinya, pucuk teh yang sudah dipetik, kemudian disangrai di tungku tanah liat yang dibakar di atas kayu bakar.
Teknik tersebut, lanjut Sarimin, ternyata punya pasarnya sendiri yang sampai sekarang tetap eksis. Tapi, karena dikerjakan manual, Sarimin tidak bisa menyanggupi dengan jumlah yang banyak.

"Ya, paling kuat sekarang 1,5 kilogram. Kalau ngerjain 5 kilogram itu bisa hampir seharian pengerjaannya. Sementara kami sudah tua," kata Sarimin.
Teh yang disangrai ternyata mengeluarkan bau sangit yang memang diincar pencintanya. Hal ini terbentuk dari proses pemanasan daun teh di dalam kuali yang dibakar di atas bara api dari kayu.
"Kami jual teh yang diproses tradisional ini Rp300 ribu per 1,5 kilogram" kata Sarimin.