Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Seniman Muklay Bocorkan Rahasia Karya Seni Bisa Dilirik Industri, Kepoin Yuk!

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Kamis, 09 Juni 2022 |21:02 WIB
Seniman Muklay Bocorkan Rahasia Karya Seni Bisa Dilirik Industri, Kepoin Yuk!
Seniman Muklay bagikan tips agar karya seni dilirik industri (Foto: Sukardi/MPI)
A
A
A

BUKAN hal mudah bagi seniman untuk mendapat panggung di mata industri. Itu juga yang dirasakan Muchlis Fachri atau Muklay, butuh waktu 4 tahun sampai akhirnya karyanya dilirik satu brand.

"2014 pertama kali gue berkolaborasi dengan brand, sedangkan gue mulai profesional di bidang desain ini dari 2010," kata Muklay saat ditemui MNC Portal di Digimap PIM 3, Jakarta Selatan, Rabu (8/6/2022).

Seniman Muklay

Selama 4 tahun, Muklay mengatakan bahwa dirinya hanya berkarya dan berkarya. Lagi pula, dirinya pun tidak menaruh target untuk karyanya bisa dipakai untuk satu brand tertentu.

"Ya, gambar aja terus. Lagipula, emang enggak berharap juga. Tapi, ternyata ada yang ajak kolaborasi, ya, dijalani," ungkap lulusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta tersebut.

So, apa rahasia Muklay sampai akhirnya bisa dilirik industri?

BACA JUGA : Abd Khafidz Fadli Sabet Installation Art Of The Year 2022, Berharap Seniman Instalasi Bisa Mendunia

Menurutnya, seorang seniman itu harus nyaman dengan karyanya. Ini yang membuat seniman dan karyanya bisa menyatu dan terikat, sampai akhirnya tercipta karakter atau identitas yang membedakan dia dengan seniman lain.

"Sebetulnya tidak ada formula pasti. Tapi, sebagai seniman Anda harus nyaman dengan karya Anda dulu. Jadi, sebelum mengarah ke industri, seniman harus nyaman dulu dengan karyanya," kata Muklay.

Ia menambahkan, "Jika seniman belum nyaman dengan karyanya dan apalagi kena 'brief' klien, lalu 'bete', ya, enggak akan ketemu. Jadi, nyaman dengan karya itu menurut saya penting sebagai seorang seniman."

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement