PUBLIK dalam beberapa hari terakhir sempat dibuat geger oleh rencana pemberlakuan tarif baru naik ke Candi Borobudur yang dibanderol Rp750 ribu per orang untuk wisatawan lokal. Meski akhirnya diputuskan ditunda, namun respons kontra dari masyarakat kadung muncul ke permukaan.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Nasional, Junus Satrio Atmodjo mengatakan, wacana tersebut akan berdampak pada ekonomi masyarakat yang mengandalkan pemasukan dari turis.
“Kalau banyak orang yang menganggap (naik) ke Borobudur mahal, apakah mereka masih berniat mau ke Borobudur? Bertiga saja sudah satu juta lebih, mereka pasti milih ke tempat lain, makan enak dan belanja. Alhasil tidak ada yang datang ke Borobudur, ekonomi melemah untuk mereka yang berusaha hidup lewat tourism,” kata Junus kepada MNC Portal di Jakarta belum lama ini.

Di sisi lain, ia mengakui jika pemeliharaan Borobudur memang sulit, karena batu-batunya mudah rusak, apalagi perilaku wisatawan lokal hanya senang-senang saja kemudian mereka coret-coret. Namun pemerintah harus tetap memerhatikan dampaknya juga.
“Artinya dengan jumlah wisatawan sedikit, income pengelola itu juga jadi lebih sedikit. Sebagian anggaran itu juga jadi sedikit, pemerintah harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk maintenance,” jelasnya.
“Ada dampak berantainya ketika tidak ada turis datang. Tempat wisata sepi, jasa yang ditawarkan untuk makan dan minum surut. Orang jual makanan lebih sedikit. Jadi panjang. Supply makan yang sifatnya elementer jadi enggak tercapai. Apakah sudah ada studi ini? Kalau sudah ada jelaskanlah ke publik,” terang Junus.
Menurut dia, jika jadi berlaku tarif itu, khususnya bagi wisatawan lokal maka secara otomatis akan terbentuk stratifikasi sosial, di mana hanya orang kaya yang bisa menikmati Candi Borobudur.