"Artinya, 10 fasilitas kesehatan tersebut kini dipastikan sudah bisa mengecek hepatitis E sendiri. Ini dilakukan agar mempercepat pemeriksaan laboratorium pada pasien yang mengarah ke hepatitis akut," terang Syahril.
Jika melihat lokasi sasaran penerima reagen, Kemenkes menempatkannya sesuai dengan wilayah dengan temuan kasus diduga hepatitis akut. Ini tentu diharapkan bisa memaksimalkan upaya penanganan dan pencegahan hepatitis akut lebih optimal lagi.
Perlu diketahui, pasien sampai bisa dinyatakan probable hepatitis akut jika sudah melewati serangkaian pemeriksaan, mulai dari tes SGOT dan SGPT, pemeriksaan Hepatitis A, B, C, D, dan E, swab mulut dan hidung untuk melacak virus SARS-CoV2 atau patogen lainnya, hingga pemeriksaan dubur. Jika semua hasil negatif, pasien masuk kategori probable.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.