KUMAN TBC yang bernama Mycobacterium Tuberculosis pada kenyataannya bisa tidur di dalam tubuh. Ini yang mencetuskan penyakit Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB) atau TBC tanpa gejala.
Penyakit tersebut membahayakan karena pasien merasa baik-baik saja, tidak sakit, padahal di dalam tubuhnya memiliki kuman TBC yang bisa menular ke orang lain. Menariknya, kuman TBC yang tertidur itu tidak bisa diprediksi kapan bangunnya.

"Pada beberapa kasus, ILTB terjadi pada balita. Jadi, di usianya yang masih kecil dia sudah menyimpan kuman TBC tapi karena imunitasnya masih cukup kuat menekan munculnya gejala, alhasil TBC-nya tidak bergejala," terang dr Nurul H.W. Luntungan, MPH, Ketua Yayasan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) dalam Webinar Kemenkes, Selasa (22/3/2022).
Nah, lanjut dr Nurul, saat si balita itu tumbuh besar dan ada kondisi imunitasnya lemah, kuman TBC yang tertidur itu bisa bangun dan akhirnya memicu munculnya gejala.
"Makanya, pada pasien ILTB pemberian obat Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) sangat penting agar kuman TBC yang tak menyebabkan gejala itu bisa dikalahkan dan artinya TBC benar-benar tidak dialami si pasien," tambahnya.
Obat TPT sendiri ada yang diberikan dalam kurun waktu 3 bulan dengan aturan minum 1 minggu sekali atau ada juga obat TPT yang dikonsumsi 6 bulan full dan dikonsumsi setiap hari. Ini akan dipengaruhi oleh diagnosa dan pemeriksaan dokter.