Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gejala Long Covid Lama Hilangnya, Pakar: Vaksin Covid-19 Terbukti Bisa Mencegahnya

Pradita Ananda , Jurnalis-Jum'at, 04 Maret 2022 |08:00 WIB
Gejala Long Covid Lama Hilangnya, Pakar: Vaksin Covid-19 Terbukti Bisa Mencegahnya
Vaksin Covid-19 terbukti cegah Long Covid (Foto: Reuters)
A
A
A

 VAKSIN Covid-19 terbukti bisa mengurangi tingkat keparahan, risiko rawat inap dan bahkan risiko fatal seperti kematian akibat infeksi Covid-19. Termasuk yang disebabkan oleh varian Omicron yang saat ini mendominasi 90 persen kasus positif secara global.

Kemudian apakah vaksin ini juga bisa bekerja untuk mencegah Long Covid yang dialami oleh para penyintas alias orang yang sudah dinyatakan sembuh dari infeksi Covid-19?

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban menyebutkan, jika dilihat dari penelitian hasil awalnya memang memperlihatkan vaksin Covid-19 ini bisa mencegah terjadinya Long Covid atau Post Covid Syndrome.

Vaksin Covid-19

“Penelitian memberi bukti awal bahwa vaksin dapat mencegah Long Covid atau setidaknya mengurangi tingkat keparahan,” jelas Prof. Zubairi, melalui akun Twitter resminya, Kamis (3/3/2022).

BACA JUGA : Penyintas Covid-19 Varian Omicron Bisa Alami Long Covid, Benarkah?

Ia melanjutkan, meski studi awal menunjukkan vaksin Covid-19 juga bekerja dengan baik untuk mencegah Long Covid atau paling tidak mengurangi level kesakitan. Tetap masih dibutuhkan data dan bukti ilmiah yang lebih banyak.

“Butuh penelitian lebih banyak lagi,” imbuh Prof. Zubairi

BACA JUGA : Omicron vs Delta, Ini Organ Tubuh yang Diserang serta Gejalanya

Sebelumnya, Prof. Zubairi juga menuturkan mengapa gejala Long Covid yang dialami para penyintas bisa bertahan lebih dari satu bulan. Menurutnya, hal tersebut terjadi bukan dari cara kerja virusnya secara langsung.

“Ternyata penyebab keluhan-keluhan itu bukan virusnya langsung, ada beberapa teori, misalnya timbul reaksi autoimun. Virus ini memacu kekebalan tubuh untuk salah bekerja. Teori lain, SARS-CoV-2 mengaktivasi virus lain. Seperti Epstein–Barr (EBV), aktivasi EBV ini menyebabkan gejala-gejala pada penyintas dan mungkin sekali SARS-CoV-2 juga membuat reaksi inflamasi yang kemudian berlanjut,” tutupnya.

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement