Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Yahudi Menyamar Jadi Seorang Muslim, Pakai Gamis demi Beribadah di Kompleks Al Aqsa

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 10 Februari 2022 |10:03 WIB
Kisah Yahudi Menyamar Jadi Seorang Muslim, Pakai Gamis demi Beribadah di Kompleks Al Aqsa
Raphael Morris, seorang Yahudi yang nekat menyamar sebagai muslim demi bisa beribadah di Kompleks Al-Aqsa (Foto: BBC)
A
A
A

SEJUMLAH orang Yahudi nekat menyamar sebagai muslim demi bisa masuk dan beribadah di situs suci yang diperebutkan, Temple Mount atau Kompleks Masjid Al-Aqsa. Hal itu mereka lakukan untuk mengecoh larangan yang diberlakukan oleh polisi Israel.

Setelah Israel merebut dan menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967, status quo yang rapuh tetap ada non-muslim dapat mengunjungi kompleks tersebut tetapi tidak boleh berdoa di sana.

Melansir BBC Indonesia, seorang aktivis Yahudi, Raphael Morris, yang memimpin kelompok Temple Mount menganjurkan Yahudi untuk tetap berdoa di tempat suci yang mereka sebut Temple Mount.

Sementara aktivis muslim Palestina, Hanadi Halawani menegaskan akan mati-matian membela Masjid Al-Aqsa.

Menyamar berpakaian muslim

Raphael Morris yang memimpin kelompok 'Returning to the Mount' mengatakan, dan anggotanya menggunakan gamis lengkap dengan peci putih untuk memasuki Temple Mount, tempat suci bagi Yahudi.

"Misinya adalah untuk merebut kembali Temple Mount. Anda ganti pakaian, ganti topi Anda. Terkadang Anda perlu mengecat rambut atau memotong rambut," kata dia.

Polisi Israel di Kompleks A-Aqsa

(Foto: AFP)

Praktik seperti ini setidaknya pernah terjadi sejak 2016 dan berujung pada penangkapan polisi.

Raphael menambahkan, ia dan anggotanya bahkan belajar beberapa bahasa Arab untuk menyempurnakan penyamaran sehingga dapat memasuki kompleks itu tanpa batas waktu dan larangan.

"Umat Islam memiliki salat lima waktu sehari. Anda dapat berdoa bersama mereka tetapi membaca doa Yahudi atau Anda dapat pergi di antara mereka dan berdiri di mana pun Anda inginkan di sana lalu berdoa," kata Raphael.

Umat Yahudi menyebut situs suci yang diperebutkan sebagai Temple Mount, sedangkan umat Islam menyebutnya sebagai Masjid Al-Aqsa

Melalui upaya itu, Raphael mengatakan, mereka dapat berdoa dengan tenang dan melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya.

"Anda dapat berdoa dan berjalan di sekitar Temple Mount tanpa ada polisi yang mengejar Anda. Walaupun ini tidak masuk akal, orang bisa ditangkap karena berdoa kepada Tuhan," kata Raphael.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement