Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Tradisi Mappadendang Suku Bugis, Pesta Panen Penolak Bala

Intan Afika Nuur Aziizah , Jurnalis-Minggu, 06 Februari 2022 |20:00 WIB
Mengenal Tradisi Mappadendang Suku Bugis, Pesta Panen Penolak Bala
Tradisi Mappadendang di Parepare, Sulawesi Selatan (pareparekota.go.id)
A
A
A

SETIAP daerah di Indonesia punya ragam budaya dengan ciri khas dengan sejarahnya masing-masing, salah satunya tradisi Mappadendang suku Bugis di Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Pesta adat mensyukuri panen ini sudah berjalan turun-temurun di kalangan masyarakat terutama di wilayah Bone.

Dikutip dari Etnis.id, Mappadendang adalah kegiatan mengolah padi menjadi beras dengan cara ditumbuk menggunakan alu’ (semacam tongkat besar yang terbuat dari bambu) di atas lesung. Tentu saja hal ini dilakukan jauh sebelum adanya mesin giling padi modern.

 BACA JUGA: Intip Tradisi Perang Api di Bali untuk Bersihkan Alam Semesta

Selain di Bone, ritual Mappadendang juga kerap dilakukan masyarakat Pinrang dan Sidrap pascapanen padi. Hal yang berbeda terjadi di Desa Allamungeng Patue, Kabupaten Bone pada Juli 2020 lalu.

Mappadendang sendiri merupakan suatu pesta yang diadakan dalam rangka besar-besaran. Tradisi ini umumnya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Suku Bugis kepada Sang Pencipta atas rezeki berupa hasil panen yang dianugerahkan kepada mereka.

 

Namun, menurut keterangan tetua kampung dan tokoh masyarakat di Desa Allamungeng Patue, ritual Mappadendang ini dilaksanakan sebagai tanggapan atas tafsiran mimpi dari salah seorang warga pendatang yang kini menetap di desa tersebut.

Diceritakan, tradisi Mappadendang terakhir kali diselenggarakan kurang lebih 20 tahun lalu. Kemudian, seorang tetua kampung yang dikenal memiliki kekuatan spiritual berjuluk sanro (dukun) mendengar ada seorang warga desa yang mimpi didatangi oleh sosok tidak dikenal, di mana mimpi tersebut juga dialami oleh sang sanro.

 BACA JUGA: Silariang, Budaya Kawin Lari Suku Bugis yang Bisa Berakhir di Ujung Badik

Warga desa tersebut menceritakan isi mimpinya di hadapan para tetua kampung, pemuka adat dan masyarakat desa, bahwa apa yang ia alami ini seperti bukan mimpi. Pasalnya, ia mendengar ada suara yang memanggil namanya saat berada di ruang makan keluarga.

Kemudian, ia keluar dan diajak menunggangi seekor kuda oleh sosok yang tidak dikenal. Saat berada di atas kuda, sosok itu mengutarakan keinginannya untuk melihat sebuah perayaan, yang tidak dilakukan di desa dalam kurun waktu yang cukup lama.

Selain itu, sosok itu juga menceritakan tentang kondisi desa yang selama ini aman dan tentram. Lalu, ia menyarankan agar sebuah perayaan segera diselenggarakan sebagai tameng dari marabahaya dan bencana.

Setelahnya, sosok itu menghilang dan orang yang bermimpi tidak sadarkan diri. Warga desa kemudian menemukan orang tersebut tergeletak di bawah pohon bambu yang berada tidak jauh dari rumahnya. Kejadian ini tentu mengandung unsur mistis, namun dipercaya memang benar demikian adanya.

Setelah kejadian itu, warga desa langsung bergotong-royong menyelenggarakan tradisi Mappadendang. Mulai dari alat seperti alu’, lesung, padi, pakaian adat, hingga persiapan logistik untuk menjamu tamu pun turut dipersiapkan.

 Ilustrasi

Di samping itu, penyelenggaraan Mappadendang juga dilakukan sebagai salah satu bentuk penolak bala, sebagaimana pesan sosok dalam mimpi tersebut. Tradisi ini dipercaya masyarakat setempat sebagai tameng terhadap bencana seperti Covid-19 yang tengah melanda beberapa negara, termasuk Indonesia.

Sebagian masyarakat di era modern mungkin tidak percaya akan hal itu, namun berbeda bagi masyarakat pedesaan. Mereka masih meyakini nilai-nilai budaya leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

(Salman Mardira)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement