Sejauh ini, tidak ada penolakan dari masyarakat setempat, namun suara-suara keras justru muncul dari Jakarta, ketika sejumlah pimpinan Majelis Ulama Indonesia, MUI, menolak keberadaannya.
Di hadapan pimpinan MUI Sulawesi Utara, Yakoov Baruch, menegaskan pendirian museum itu tidak didasari niat untuk mengampanyekan upaya normalisasi hubungan diplomasi Indonesia-Israel.
Puluhan kilometer dari Sinagoga Shaar Hashamayim, menorah setinggi 18 meter telah berdiri sejak 2009 lalu di atas bukit Manado.
"Saya menjelaskan kembali sikap Yahudi Indonesia mendukung keputusan pemerintah Indonesia, yang sampai saat ini mempunyai sikap terhadap konflik Israel-Palestina itu seperti apa, kita tahu. Kami mendukung sepenuhnya," kata Yakoov.
Keberadaan Museum Holocaust lanjutnya, tidak mendapat bantuan pihak asing dalam bentuk uang atau apapun. "Itu murni dari hasil keringat kami," lanjutnya.
Yakoov juga menegaskan, pihaknya tidak meng-endorse negara asing atau untuk kepentingan asing.
"Saya ingin mengedukasi masyarakat Indonesia tentang bahayanya rasialisme dan kebencian," kata pemimpin sinagog dan pengelola Museum Holocaust, Rabi Yakoov Baruch.
(Foto: AFP/Ronny Adolof Buol)
"Kalau kita tidak memerangi rasialisme dan kebencian sejak dini, dan itu bisa terlambat, maka peristiwa seperti holokos akan menjadi pelajaran buat kita," terang Rabi Yakoov Baruch.
"Kalau kita tidak memerangi rasialisme dan kebencian sejak dini, dan itu bisa terlambat, maka peristiwa seperti holokos akan menjadi pelajaran buat kita," imbuh dia.
"Bukan untuk hanya genosida terhadap bangsa Yahudi saja, tapi terhadap suku etnis manapun. Itu tidak bisa dibenarkan," tambah Yakoov.
"Semuanya dalam bingkai NKRI, di mana Konstitusi kita menentang segala bentuk penjajahan, termasuk kita belajar dari penjajahan Nazi di Eropa," jelasnya.