Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Tragis Penyihir Malin Matsdotter, Mati Dibakar di Tiang Pancang

Pradita Ananda , Jurnalis-Sabtu, 22 Januari 2022 |21:04 WIB
Kisah Tragis Penyihir Malin Matsdotter, Mati Dibakar di Tiang Pancang
Ilustrasi penyihir (dok Freepik)
A
A
A

Tak terima dituduh oleh anak perempuannya sendiri, Malin pun mengutuk putri-putrinya karena kebohongan mereka. Tetapi Malin akhirnya tetap dinyatakan bersalah oleh pengadilan atas kesaksian putri-putrinya. Dalam persidangan, Malin tetap bersikukih menyangkal semua tuduhan.

Eksekusi mati Malin dengan cara dibakar di tiang pancang menjadikan sosok penyihir terkenal satu ini disebutkan lebih lanjut sebagai salah satu korban terakhir dari perburuan penyihir besar pada periode 1668-1676, Det Stora Oväsendet" (Keributan Besar) yang terjadi di Swedia. Membuat dirinya menghembuskan napas terakhirnya pada Agustus 5 Agustus 1676.

Malin dijatuhi hukuman dibakar hidup-hidup karena terus menolak mengaku bersalah, meskipun dia sempat disiksa. Salah satu terdakwa sebelumnya, Anna Lärka, juga menerima hukuman yang sama atas penolakannya untuk mengaku bersalah, tetapi hukuman itu dicabut ketika dia akhirnya memilih mengaku perbuatannya.

Dalam kasus Matsdotter, hukuman bakar hidup-hidup tetap dilaksanakan dan inilah yang menyebabkan perdebatan di antara pihak otoritas setempat karena metode eksekusi ini sangat jarang di Swedia. Sejauh ini, tidak ada selain Malin di Swedia yang dieksekusi dibakar hidup-hidup karena kasus sihir.

Eksekusi Malin digelar di alun-alun Hötorget di Stockholm pada tanggal 5 Agustus 1676. Malin dieksekusi bersama wanita lain, Anna Simonsdotter Hack atau yang dijuluki "Tysk-Annika". Anna juga dituduh dan dijatuhi hukuman mati atas kesaksian anak-anaknya sendiri. Anna Simonsdotter kala itu dipenggal dengan cara biasa sebelum dibakar. Perbedaan perilaku eksekusi inilah yang membuat sosok Malin dikagumi dalam sejarah sihir Swedia.

Setelah dieksekusi mati dengan dibakar di tiang pancang. Konon disebutkan, Malin disebutkan meninggal tanpa rasa sakit dan tanpa berteriak yang dianggap sebagai bukti bahwa memang dirinya adalah seorang penyihir. Sebab diyakini bahwa penyihir tidak bisa merasakan rasa sakit.

Selanjutnya, di tahun 1677 semua pendeta di Swedia diperintahkan untuk memberi tahu jemaatnya bahwa para penyihir sudah diusir dari Swedia untuk selamanya. Hal ini dilakukan untuk menghindari pengadilan penyihir lebih lanjut dan akhirnya tindakan ini bisa mengakhiri perburuan besar penyihir Swedia tahun 1668-1676.

(Kurniawati Hasjanah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement