McCourt mengatakan, dia dan ibunya sudah siap pagi itu untuk bertemu satu sama lain. Namun, pemberitahuan dari email tersebut mematahkan hati untuk mengunjungi ibunya dan membuatnya terperangah.
"Sepertinya mereka mengikat kita, Itu, bagi saya, menjijikkan. Aku tidak bisa menelepon ibuku untuk memberitahunya," uajr McCourt.
Sebaliknya, dia menelepon saudara perempuannya untuk menyampaikan berita buruk itu. McCourt mengatakan, dia merasa seperti diberi harapan palsu.
Sejak itu dia berbicara dengan ibunya yang sangat lemah dan lelah melalui telepon, tetapi itu tidak sama dengan dapat melihatnya secara langsung.
"Ini benar-benar kekacauan," katanya.
McCourt mengatakan dia dan suaminya merasakan tekanan karena ibunya bisa mati kapan saja.
"Dia berpegang pada harapan bahwa dia bisa melihat Andrea untuk terakhir kalinya," paparnya.
(Kurniawati Hasjanah)