Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Viral Cerita WNI Tiba dari Luar Negeri Harus Karantina, Sorot Diskriminasi Pelayanan di Bandara

Tim Okezone , Jurnalis-Senin, 13 Desember 2021 |22:04 WIB
Viral Cerita WNI Tiba dari Luar Negeri Harus Karantina, Sorot Diskriminasi Pelayanan di Bandara
Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang (Okezone.com/Isty)
A
A
A

Dia terlihat sibuk menelpon untuk mencarikan hotel ke seorang warga negara asing. Beberapa petugas kesehatan di tempat itu juga sibuk menghubungi hotel-hotel jaringan mereka, untuk memberikan pelayanan bagi orang-orang yang mampu membayar biaya karantina sesuai harga yang mereka telah sebutkan. Mereka berperan layaknya calo di terminal atau di konser-konser musik.

Bagi yang setuju dan punya duit dengan harga hotel sesuai kesepakatan, mereka diarahkan untuk menjalani tes PCR di Bandara sebelum diberangkatkan ke hotel dengan angkutan yang telah dipersipkan. Saya tak tahu berapa keseluruhan uang yang harus mereka keluarkan untuk proses karantina di hotel itu. Saya juga tidak bisa menebak, apakah mereka akan dikarantina ketat selama 10 hari atau tidak.

Saya terus saja mengamati proses transaksi dan negosiasi antara para anggota satgas kesehatan itu dengan para penumpang yang bersedia dikarantina di hotel itu.

Setelah berhasil mengurus warga asing tadi dan terlihat tak lagi terlalu sibuk, saya kembali mendekati Anggota TNI tadi. Dia kemudian menyuruh saya bergabung dengan sekelompok orang terduduk lesu di kursi-kursi tunggu, tak jauh dari tempat kami berdiri.

Orang-orang itu ternyata senasib dengan saya. Mereka pun tak punya duit untuk dikarantina di hotel dengan harga yang dipatok oleh para anggota satgas di Bandara. Bahkan ada yang menunggu dari jam 7 pagi. Kami dijanjikan baru akan diproses pada tengah malam, setelah penumpang pesawat terakhir tiba di Bandara. Saya memanfaatkan waktu penantian itu untuk mengisi daya telpon genggam saya sambil selonjoran di lantai, sama dengan beberapa penumpang lain yang bahkan telah menggelar alas untuk tidur.

Tengah malam yang dinantikan itu tiba. Petugas datang mendata kami satu per satu. dini hari itu, ada sekitar enam puluhan orang yang akan diangkut untuk menjalani karantina.Setelah pendataan selesai, kami diarahkan untuk melewati proses imigrasi, kemudian dipersilahkan mengambil bagasi. jelang pukul 2 pagi, kami dipersilahkan keluar untuk menuju bus damri yang sudah menunggu di luar.

Atas perintah satgas, sopir bus yang akan mengantarkan kami, meminta seluruh penumpang menyerahkan passport. Katanya itu dibutuhkan untuk pendaftaran di tempat karantina nantinya.

Akhirnya setelah itu, bus Damri yang terisi penuh penumpang tanpa penjarakan tempat duduk itu, melaju pelan di tengah hujan deras pagi itu. Saya berusaha memejamkan mata dan berharap segera sampai lokasi tujuan dan bisa mendapatkan kamar untuk beristirahat.

Karantina di Bus 

Sekitar satu jam perjalanan, ternyata bus yang kami tumpangi berhenti di Rumah Susun Pasar Rumput, Jakarta Selatan. Bus berhenti lama di depan rusun, sembari mengantre untuk masuk ke pekarangan.

Satu jam. dua jam. tiga jam. matahari mulai terang tanah. Bus yang kami tumpangi belum juga bisa masuk ke pekarangan rusun. Beberapa penumpang termasuk saya sudah mulai gelisah.

AC bus yang begitu dingin ditambah cuaca di luar yang masih hujan membuat kami tak lagi nyaman. Beberapa orang tua ada pula yang batuk-batuk.

Saya membatin semoga saja tidak ada satu pun penumpang di bus ini yang positif Covid. Kalau ada, sudah pasti kami semua akan tertular karena terkurung dalam bus yang suhu udaranya sama seperti di dalam kulkas ini.

Saya berusaha mencari tahu ke sang sopir mengapa kita harus mengantre begitu lama untuk masuk ke dalam pekarangan. Sang sopir menjelaskan kalau kita harus menunggu proses pendaftaran.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement