Natalia, yang sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Jayabaya ini sedari kecil telah membangun impiannya sebagai perancang busana. Kecintaan pada dunia fashion inilah yang membuat dirinya lebih memilih sebagai seorang fashion designer ketimbang berkarier sebagai lawyer.
Perkenalannya dengan Batik, khususnya Batik Madura, dimulai sejak awal tahun 2000. Batik tidak hanya menjadi komoditi komersial penunjang hobi dan finansial keluarga, namun juga menjadi bagian dari lifestyle sehari-hari Natalia dan kedua putrinya.
Di awal tahun 2005, Natalia mulai melebarkan kiprahnya ke panggung internasional. Dimulai dari pasar Indonesia, brand miliknya, House of Kebaya by NataliaYaya, mulai merambah ke negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Gaya desainnya yang unik, dimana ia memadukan warisan budaya tradisional Timurnya, Batik Indonesia, dengan asesoris modern dunia Barat, telah menjadi ciri khas rancangan Natalia.
"Sejak masih muda saya sangat suka dengan western style. Maka, maksud dari East Meets West ini adalah Batik Tradisional Indonesia saya padu padankan dengan gaya Barat mengikuti empat musim yang ada di Amerika, seperti contoh baju Batik Madura saya desain dengan model summer dress, winter coat, cowboy style, western gown mix kebaya, dan lain sebagainya," ucap Natalia.
Natalia senantiasa membawa falsafah rancangnya yakni "East Meets West" sejak acara Fashion Show di New York City (2018) maupun di acara khusus yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Los Angeles, Amerika Serikat (2021). Beragam rancangan Batik Madura hasil karya Natalia dapat dilihat di galeri ITPC (International Trade Promotion Center) Los Angeles, Amerika Serikat, maupun di galeri pribadinya.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.