INDONESIA belum memiliki kemampuan surveillance genomic yang memadai untuk mendeteksi varian baru Covid-19, termasuk varian Omicron. Menurut Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman surveillance genomic Indonesia masih rendah hanya sekira 0,2-0,6 persen per 100 kasus terkonfirmasi.
Akibat surveillance genomic yang rendah ini, maka radar Indonesia untuk menemukan varian baru jua sangat kurang. Sebab bicara varian itu adalah surveillance genomic.
"Whole genome sequencing itu menjadi alat tulisnya untuk mendeteksi keberadaan dan juga apa saja varian yang ada di Indonesia. Mulai dari potensi ancaman, karakter virus, dan lain sebagainya," kata Dicky saat dihubungi MNC Portal, Jumat (3/12/2021).

Baca Juga : Epidemiolog Prediksi Varian Omicron Sudah Masuk Indonesia