Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Studi: Obat Depresi Kurangi Risiko Covid-19 Parah hingga Kematian

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Senin, 08 November 2021 |14:00 WIB
Studi: Obat Depresi Kurangi Risiko Covid-19 Parah hingga Kematian
Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)
A
A
A

STUDI terbaru menunjukkan bahwa obat depresi fluvoxamine dapat mengurangi risiko Covid-19 menjadi lebih buruk. Obat yang mudah ditemukan di apotek dan harganya murah ini digadang-gadang menjadi senjata baru mengalahkan Covid-19.

Dalam penjelasan Science Magazine, orang yang mulai merasakan gejala Covid-19, lalu mengonsumsi obat antidepresan ini dalam beberapa hari, secara dramatis mengurangi risiko rawat inap dan kematian. Ini menunjukkan bahwa uji coba obat generik yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) ini sebagai pengobatan Covid-19 memperlihatkan kemajuan luar biasa.

Obat Depresi

"Pada pasien Covid-19 yang baru terinfeksi dengan risiko komplikasi yang tinggi, mengonsumsi fluvoxamine 10 hari dapat mengurangi rawat inap hingga dua pertiga dan mengurangi kematian hingga 91 persen pada pasien yang mentoleransi obat," lapor para peneliti pada 27 Oktober di Lancet Global Health.

"Fluvoxamine umumnya diresepkan untuk gangguan obsesif-kompulsif. Obat antidepresan ini bekerja dengan meningkatkan kadar serotonin pada otak di antara sel-sel saraf. Selain itu, obat tersebut memiliki sifat biologis lain yang dapat meredakan peradangan yang dipicu oleh Covid-19," kata psikiater anak Angela Reiersen dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis.

Baca Juga : Mencari Obat Antidepresan Aman Anak, Apa Saja?

Baca Juga : Waspada Depresi, Kenali Ciri-cirinya

Psikiater Reiersen menemukan ide untuk menguji fluvoxamine sebagai pengobatan Covid-19 sambil memeriksa paper dari berbagai studi yang berkaitan dengan Covid-19 sejak awal pandemi.

"Ini adalah obat yang sudah dipakai dua hingga tiga dekade dalam dunia medis, yang artinya telah dikonsumsi jutaan orang," kata David Boulware, seorang dokter penyakit menular dan peneliti di University of Minnesota Medical School di Minneapolis.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement