Selain keterbatasan anggaran, kata Asmanuddin, pemugaran bungker peninggalan Jepang juga terkendala lokasinya masuk dalam lahan milik warga.
"Beberapa bungker dalam kondisi rusak berat dan tidak terawat. Bungker ini merupakan sejarah keberadaan militer Jepang di masa perang dunia kedua puluhan tahun silam," kata Asmanuddin.

Kendati begitu, Asmanuddin mengatakan pihaknya terus berupaya pemugaran pada bungker tersebut untuk dijadikan objek wisata, sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat Simeulue.
"Kami terus berupaya menjadikan korok-korok atau bungker militer Jepang tersebut andalan wisata sejarah di Pulau Simeulue, sehingga menarik kunjungan wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara," kata Asmanuddin.
(Salman Mardira)