Advertisement
Advertisement

Kota Ini Dulu Pernah Tenggelam, tapi Muncul Lagi ke Permukaan

Antara , Jurnalis-Senin, 11 Oktober 2021 |19:02 WIB
Kota Ini Dulu Pernah Tenggelam, tapi Muncul Lagi ke Permukaan
Halfeti, kota kuno di Provinsi Sanliurfa, Turki (Foto: Instagram/@acikgosevgi)
A
A
A

JIKA Anda berkunjung ke Provinsi Sanliurfa, Turki, Halfeti jadi salah satu objek wisata yang sangat sayang dilewatkan.

Sangat berbeda dengan destinasi wisata lain yang identik dengan bebatuan dan kepingan peradaban manusia bersejarah, Halfeti menawarkan pengalaman sempurna untuk menikmati teriknya musim panas di tenggara Turki.

Keunikan Halfeti ialah kota ini dulunya sempat tenggelam atau terendam karena sebuah proyek bendungan. Sisa-sisa kota tua masih bisa dilihat di bawah air yang bening.

Sebagian besar Halfeti tenggelam di bawah air karena Bendungan Birecik, yang membanjiri daerah itu pada 1990-an sehingga sebuah kota baru kemudian dibangun sekitar 15 kilometer jauhnya.

Dengan demikian, pemukiman dibagi menjadi Halfeti Baru dan Lama. Sisa-sisa Old Halfeti, tenggelam di dalam sungai, telah menarik pengunjung yang mengagumi pemandangan yang dapat dibandingkan dengan museum bawah laut.

Mengulik dari sejarahnya, Anda perlu kembali ke 855 sebelum masehi, ketika Raja Asyur Shalmaneser II pertama kali mendirikan permukiman. Selama era Romawi, sebuah permukiman dengan nama Akamai berkembang pesat, kemudian berubah menjadi Koyla.

Baca juga: Canyon Acipayam, Wisata Alam Eksotis di Tengah Hutan Turki

Halfeti, Turki

(Foto: Instagram/@guide_girl)

Setelah periode Romawi, kota ini menyaksikan banyak peradaban termasuk Sassania, Arab, Umayyah dan Abbasiyah yang memerintah wilayah tersebut dari abad ke-6 hingga ke-8 Masehi.

Pada abad ke-11, Seljuk mengambil alih Halfeti dan pada abad ke-16 menjadi bagian dari Kekaisaran Ottoman.

Pada 2013, kota ini diberikan keanggotaan gerakan Cittaslow atau "kota lambat". Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kenikmatan hidup dengan memperlambat langkah dan berfokus pada kualitas daripada kuantitas.

Gerakan ini memilih kota-kota kecil (dengan populasi di bawah 50.000) dan mendukung pemerintah daerah dalam pengembangan dan perlindungan tradisi, masakan, dan alam.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement