Hasil kerajinan bambu batik ini kata Bertha sudah sampai ke luar negeri seperti Dubai, Belanda, Hongkong, dan China. Belanda biasanya suka dengan model serangga, ada juga miniatur rumah panggung. Kalau Cina suka sekali dengan model miniatur rumah.
"Sebelum pandemi, untuk pemasaran sampai luar negeri, ada yang lewat Dinas terkait, ada juga yang datang beli langsung. Wisatawan asing paling banyak membeli sebelum pandemi, kalau tamu-tamu lokal hanya dari dinas-dinas terkait dan pribadi," kata Bertha
Untuk pembuatan miniatur seperti model bunga memakan waktu dua sampai dengan tiga hari, tergantung tingkat kesulitan masing-masing model. Untuk harga jual bervariasi mulai dari Rp250 sampai puluhan juta.

"Kalau model bunga, harga standarnya itu Rp250 sampai Rp1 juta. Yang paling mahal biasanya miniatur, seperti miniatur kantor walikota yang pernah saya buat, ada juga model udang, tergantung tingkat kesulitan, kalau tidak terlalu sulit biasa harganya, tapi kalau sulit, itu yang biasanya harganya mahal," kata Bertha.
Meski di tengah pandemi saat ini Bertha tetap eksis membuat miniatur kerajinan yang dirintisnya sejak 2021. Bambu batik sendiri didapatnya dengan cara membeli di Kabupaten Kepulauan Sangihe jika pesanan lagi banyak, tapi juga ada bambu yang ditanamnya di kebun.