SETENGAH abad silam penonton program Nationwide BBC menyaksikan De Havilland Comet lepas landas dari Bandara Gatwick dan mengudara anggun ke langit Sussex, dalam perjalanan menuju Tenerife. Soundtrack dimulai dari dek penerbangan. "Bersiaplah," kata kapten.
Beberapa saat kemudian terdengar suara; “Selamat pagi bapak dan ibu. Ini Pilot Sintes yang berbicara. Kita sekarang terbang di ketinggian 33.000 kaki dengan kecepatan 500 mph,” kata seorang wanita.
Kemudian reporter mulai berbicara; “Ya, kamu sudah menebaknya. Yvonne Pope Sintes yang berusia empat puluh satu tahun adalah seorang pilot jet wanita,” kata sang reporter.
Betapapun banyaknya laporan yang membuat Anda ngeri, apapun alasannya tak menampik jika seorang wanita nyatanya dapat menerbangkan pesawat yang lazimnya dilakukan kaum pria. Korelasi pekerjaan dan status gender sama sekali tidak berlaku bagi Yvonne Sintes.
Sintes dibesarkan dekat Bandara Croydon di London Selatan. Kondisi itu yang membuatnya tertarik untuk belajar seputar dunia penerbangan. Namun meski dia memenuhi syarat sebagai pilot swasta pada tahun 1953, butuh waktu bertahun-tahun sebelum dia akhirnya diterima.
Baca juga: Kakak dan Adik Berpapasan di Udara, Suka Duka 2 Saudara Jadi Pilot
(Yvonne Pope Sintes, Foto: Getty Images)
Ia awalnya merintis karier sebagai pramugari, kemudian menjadi instruktur terbang, dan menjadi pengontrol lalu lintas udara (ATC) wanita pertama di Negeri Ratu Elizabeth.
Yvonne Sintes kemudian melamar ke perusahaan British European Airways, sekarang bagian dari BA, tetapi diberitahu bahwa mereka tidak akan menerima pilot wanita.
Dan-Air, sebuah perusahaan komersial yang berfokus pada perekrutan orang-orang terbaik tanpa memandang jenis kelamin, menerima dan melatihnya di Comet – pada saat itu merupakan penerbangan standar untuk wisatawan Inggris ke Mediterania dan Kepulauan Canary.
“Yang lebih menyenangkan adalah saya menerbangkan pesawat yang mereka katakan tidak mungkin melatih saya,” katanya, sebagaimana dikutip dari Independent.