STUNTING adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan karena malnutrisi kronis (menahun), infeksi kronis, dan stimulasi psikososial tak memadai yang ditandai dengan tinggi atau panjang badan terhadap usia kurang dari -2 SD median kurva pertumbuhan Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Anak stunting memiliki masalah serius yang akan menyulitkan dia dalam proses bertumbuh dan berkembangnya. Itu kenapa, masalah stunting menjadi salah satu perhatian utama pemerintah karena erat kaitannya dengan goals negara yaitu menciptakan sumber daya manusia yang unggul demi masa depan bangsa yang lebih baik.
Dijelaskan Ahli Kesehatan anak, Prof Hartono Gunardi, untuk mengeluarkan diagnosis seorang anak stunting itu bukan perkara singkat. Sebab, banyak aspek yang harus dinilai bukan sekadar tinggi atau pendeknya tubuh si anak.

"Perlu yang namanya identifikasi menyeluruh sampai akhirnya didapat diagnosis stunting pada anak-anak. Bahkan, setelah didapat diagnosisnya, langkah lanjutan yang harus dilakukan adalah mencari tahu penyebab stunting tersebut, apakah karena malnutrisi kronis, infeksi kronis, atau faktor penyebab lainnya," paparnya dalam webinar kesehatan, Selasa (29/6/2021).
Nah, kalau sudah diketahui penyebabnya, tugas selanjutnya adalah memperbaiki. Artinya, misal si anak stunting karena malnutrisi, akibat si anak muntah-muntah terus, maka kondisi itu yang diperbaiki.

"Atau stunting karena masalah paru-paru, maka paru-parunya diobati selagi orangtuanya membenahi pemenuhan gizi yang tertinggal," tambahnya.
Baca Juga : Tertinggi Ke-4 di Dunia, Sulitnya Hilangkan Stunting di Indonesia
Karena hal ini, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, mengimbau agar tidak cepat menduga atau bahkan mendiagnosis sendiri si anak stunting karena punya tubuh yang pendek.
"Anak pendek bukan berarti stunting, sedangkan anak stunting sudah pasti pendek. Seperti yang dijelaskan Prof Hartono, perlu pemeriksaan mendalam untuk tahu apakah si anak stunting atau tidak," terangnya.