MESKIPUN kita harus makan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi, bukan berarti kita harus makan secara berlebihan loh. Kebanyakan makan bisa membuat perut terasa mual, dan mengganggu sistem pencernaan.
Studi yang diterbitkan dalam American Journal of Physiology: Endocrinology and Metabolism mengatakan bahwa makan berlebihan kadang-kadang tidak menimbulkan efek samping apapun, tetapi jika dilakukan secara teratur dapat memengaruhi berat badan, konsentrasi lemak, dan kadar gula darah.
Berikut ini 5 efek yang timbul akibat terlalu sering makan yang berlebihan:

Memperlambat pencernaan
Makanan yang dikonsumsi secara berlebihan rupanya dapat memperlambat pencernaan, maka dari itu dapat menyebabkan penumpukan lemak di dalam perut. Makanlah makanan yang mengandung lebih banyak nutrisi supaya menghasilkan energi yang baik bagi tubuh dan terhindar dari obesitas.
Menyebabkan diabetes
Makan berlebihan dapat menyebabkan berat badan menjadi naik, yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2, kata American Diabetes Association. Makan berlebihan kronis menghentikan sel darah untuk mengubah glukosa darah menjadi energi dan mempersulit pengendalian kadar gula darah, sehingga meningkatkan risiko diabetes.
Mengganggu waktu tidur
Makan berlebihan dapat menyebabkan badan menjadi lesu dan dapat mengganggu pola tidur kalian loh. Makan terlalu banyak juga bisa menyebabkan perut kembung dan tidak nyaman sehingga membuat kamu sulit tidur.
Meningkatkan risiko kesehatan jantung
Makan berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Sebab makanan yang dikonsumsi berlebihan dapat meningkatkan hormon stres, yang pada akhirnya meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.
Sebagai informasi tambahan bahwa seseorang yang mengidap penyakit jantung akan meningkatkan risiko serangan jantung sebesar 4 kali lipat, jika mereka terlalu sering makan yang berlebihan.
Fungsi otak menjadi terganggu
Terlalu banyak kalori dalam tubuhmu membuatmu sulit berpikir dan dapat menyebabkan penurunan kemampuan daya ingat. Makan berlebihan dapat mengganggu hormon yang membantu mengirimkan sinyal kenyang ke otak.
(Martin Bagya Kertiyasa)