Umar mengatakan, sebagai seniman ia tetap saja berkarya. Melukis merupakan kegiatan sehari-harinya. Ia baru saja menyelesaikan lukisannya berjudul “Entah” yang mencerminkan, entah sampai kapan pandemi ini akan berlalu.
Sementara, seorang pelaku bisnis, Eddy Sutrisno yang pada tahun 2019 (sebelum pandemi) meresmikan hotelnya, Khanaya mengatakan, “Karena sekarang ini Idul Fitri dan Waicak berdekatan di satu bulan Mei, maka pengusaha sektor pariwisata di candi Borobudur, mengeluhlah.
Namun demikian, seperti saya pelaku bisnis wisata di Borobudur, saya mengembangkan promosinya di lokal, jadi satu provinsi begitu.”
Padahal sebelum berinvestasi membangun rumah makan dan hotelnya, Eddy telah melakukan studi dan mempelajari potensi yang terdapat di candi Borobudur dan sekitarnya.
“Potensi pariwisata dari Taiwan, China, Thailand ke candi Borobudur itu besar. Berarti saya sebagai pengusaha kota Magelang ikut mengembangkan. Karena respon yang bagus dari Dinas Pariwisata, maka saya mengembangkan restauran yang representatif untuk wisatawan. Setelah saya membuka restauran cukup bagus, maka saya melihat hotel yang kelas menengah artinya di bawah Amanjiwo bintang lima itu masih berpotensi untuk saya buka, maka saya mengembangkan hotel Khanaya.”
Pandemi tidak hanya merugikan pariwisata di Candi Borobudur, namun juga di seluruh dunia, terutama bagi para pelaku bisnis di sektor pariwisata yang kini masih menunggu pulihnya keadaan setelah terkendalinya COVID-19.
(Salman Mardira)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.