PENYULUT meriam di Masjid Agung Al A'raf Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten senang dan ikhlas menerima honor Rp100 ribu untuk membunyikan dentuman suara meriam sebagai pertanda tibanya umat Islam berbuka puasa pada Ramadhan 1422 Hijriah.
"Mungkin di Banten hanya ada di Rangkasbitung setiap Ramadhan masih lestari tradisi dentuman suara meriam," kata Opik, seorang petugas penyulut meriam di Masjid Agung Al A'raf Rangkasbitung, Lebak, Kamis (6/5/2021).
Baca juga: Kawasan Alun-Alun Rangkasbitung Ditutup karena Corona
Dentuman suara meriam itu bisa terdengar sejauh 10 kilometer untuk menyampaikan informasi bahwa tibanya umat Islam di tiga kecamatan antara lain Rangkasbitung, Cibadak dan Kalanganyar untuk berbuka puasa.
Penyampaian dentuman suara meriam itu, karena sejak dulu zaman Belanda tidak ada media elektronika untuk menyebar informasi telah tibanya berbuka puasa.
Karena itu, kata dia, satu-satunya dentuman meriam yang bisa dijadikan sebagai pertanda tibanya waktu umat Islam untuk berbuka puasa Ramadhan.
"Tradisi dentuman suara meriam di Rangkasbitung berlangsung sejak tahun 1928 hingga kini masih dipertahankan," katanya.
Baca juga: 7 Masjid Unik di Indonesia, Pas Buat Ngabuburit Sambil Wisata Religi
Ia mengaku awalnya merasa ketakutan saat menyulut api dimasukkan ke lubang meriam sehingga mengeluar dentuman suara keras.
Namun, kata dia, saat ini sebagai penyulut meriam selama 26 tahun merasa tetap senang, meski berisiko ada kecelakaan.
"Bahkan petugas penyulut bernama Sai pada 1956 bagian tangannya terputus ketika hendak menyulutkan meriam locok," kata Opik.