Alhasil, beberapa konstruksi masjid seperti marmer kuno yang ada di bagian depan masjid sebagian rusak dan disusun ulang dan diletakkan di bagian samping kiri masjid.
Selain konstruksi masjid yang jadi 'korban' alam, terdapat kitab-kitab tulisan huruf arab kuno karya Ki Ageng Wiroyudo yang bertuliskan tangan di sebuah kertas yang sudah berusia ratusan tahun juga harus rusak termakan ganasnya alam.
"Ada kitab tulisan arab gundul peninggalan Mbah Buyut Wiroyudo, dari tulis tangan berbahan kertas, sekarang rusak terkena banjir," keluhnya.
Perubahan konstruksi masjid sebenarnya juga disayangkan oleh seorang jamaah yang singgah, Febri Yudha. Ia menyebut sebagai bangunan cagar budaya dan sejarah, sayang sekali bila masjid itu harus berubah konstruksinya.
"Kalau itu bangunan sejarah tentu disayangkan. Tapi mau bagaimana lagi ini faktor alam, daripada tidak bisa salat karena kebanjiran," ucap warga Kanor itu.
(Rizka Diputra)