Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Melihat Masjid Tertua di Bojonegoro Berusia 3 Abad Peninggalan Kerajaan Mataram

Avirista Midaada , Jurnalis-Sabtu, 24 April 2021 |17:02 WIB
Melihat Masjid Tertua di Bojonegoro Berusia 3 Abad Peninggalan Kerajaan Mataram
Masjid Nurul Huda, tertua di Bojonegoro peninggalan Kerajaan Mataram (Foto: Okezone.com/Avirista Midaada)
A
A
A

Sejak berdiri tahun 1775 Masehi hingga saat ini, masjid sudah direnovasi sebanyak lima kali, daun pintu dan empat pilar masjid yang masih dipertahankan merupakan hasil renovasi ketiga tahun 1262 Hijriah atau 1847 Masehi.

"Jadi ini daun pintu menunjukkan renovasi ketiga itu tahun 1262 Hijriah. Sebelumnya masjid ini sudah ada lama dan digunakan sebagai tempat penyebaran islam di Cangaan dan sekitarnya," tukasnya.

Selain konstruksi dasar bangunan masjid yang masih dipertahankan, terdapat sejumlah peninggalan kuno yang masih tersimpan mulai dari karpet merah, keris, dan tombak milik Ki Wiroyudo yang tersimpan dalam peti kayu jati yang juga usianya diperkirakan sudah mencapai 342 tahun.

"Ada peninggalan karpet merah, tombak, dan keris yang tersimpan dalam peti kayu. Itu semua barang dari Ki Wiroyudo. Bahkan karpet merah itu pernah dipakai pemerintah Bojonegoro menyambut kedatangan Bung Karno waktu berkunjung ke Bojonegoro," tukasnya.

Tak ketinggalan pula, jam matahari atau sundial sebagai alat yang menunjukkan waktu masuk salat sebelum adanya jam, atau masyarakat sekitar mengenalnya dengan nama benjet. Benjet itu kini diletakkan di halaman depan masjid, sebagai penghias bangunan masjid lantaran sudah ada jam.

Masjid Nurul Huda, Bojonegoro

Baca juga: Berziarah ke Makam Tuanku Imam Bonjol, Ulama Pemberani yang Diasingkan Belanda

Rusak diterjang banjir

Meski menjadi masjid tertua di Kabupaten Bojonegoro, ternyata tak membuat konstruksi bangunan asli seperti aslinya. Faktor alam yang menjadi pertimbangan akhirnya masjid direnovasi menyeluruh di tahun 2014 hingga 2015.

Ya, letaknya yang berjarak sekitar 100 meter dari Sungai Bengawan Solo membuat masjid ini rentan tergenang banjir dari aliran anak Sungai Bengawan Solo yang ada tak jauh juga dari bangunan masjid.

"Kami sengaja meninggikan satu meter karena kalau banjir ini setiap Salat Jumat tidak bisa digunakan. Lha masak kalau lagi banjir sebulan bisa dua kali kebanjiran, terus enggak Salat Jumat," beber Hakim.

Maka faktor itulah yang akhirnya membuat konstruksi sebagian besar masjid diperbarui dan terkesan lebih modern.

"Sebenarnya sayang kalau dipugar dari bangunan aslinya. Tapi mau bagaimana lagi harus ditinggikan, tapi tidak mengubah gaya arsitek lama masjid hanya ditinggikan dan terlihat lebih modern saja," tuturnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement