Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Keunikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam, Dijaga 'Pasukan' Kera Setiap Hari

Violleta Azalea Rayputri , Jurnalis-Minggu, 28 Maret 2021 |18:08 WIB
Keunikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam, Dijaga 'Pasukan' Kera Setiap Hari
Masjid Saka Tunggal. (Foto: Instagram masjid_sakatunggal)
A
A
A

MASJID Saka Tunggal Baitussalam, atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Saka Tunggal adalah masjid bersejarah di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Disebut bersejarah, karena memang masjid ini sudah berdiri sejak 1288 dan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya loh.

Masjid ini terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas. Hingga kini masjid masih berdiri megah dan digunakan sebagai tempat ibadah.

Banyak warga sekitar maupun wisatawan yang datang menikmati suasana masjid sambil beribadah. Nah, Anda juga perlu tahu beberapa fakta menarik masjid Saka Tunggal lebih lanjut, yang dikutip Okezone dari berbagai sumber.

Dibangun sebelum era Wali Songo

 masjid

Masjid berukuran 12 x 18 meter ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal) yang berada di tengah bangunan utama masjid. Dikutip dari dunia masjid islamic center, saka masjid memiliki empat sayap ditengah yang akan nampak seperti sebuah totem. Bagian bawah sayap dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan tahun pendirian masjid tersebut.

Menariknya, masjid ini adalah satu satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16 Masehi. Karena masjid ini didirikan 2 abad sebelum Wali Songo, menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai Masjid Tertua di Indonesia.

Baca Juga:Nekat Liburan ke Luar Negeri, Denda Hampir Rp100 Juta Bakal Menanti

Arsitektur “papat kiblat lima pancer”

Salah satu keunikan masjid ini adalah pada arsitekturnya yaitu empat helai sayap yang menempel di kayu di tengah saka. Empat sayap tersebut melambangkan ”papat kiblat lima pancer”. Berarti manusia sebagai pancer atau tiang yang dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi.

“Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia,” tulis laman Dunia Masjid Islamic Center.

“Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. Hidup harus seimbang.”

 

Tradisi unik masjid

 

Setiap menjelang dan setelah sholat Jumat, Jamaah masjid Saka Tunggal akan melaksanakan tradisi ura-ura yaitu berdzikir dan bersholawat dengan nada seperti melantunkan kidung Jawa. Uniknya, bahasa yang digunakan adalah campuran Arab dan Jawa. Khutbah Jumatnya pun disampaikan seperti melantunkan sebuah kidung. Uniknya lagi, seluruh rangkaian sholat jumat dilakukan secara berjamaah, mulai dari shalat tahiyatul masjid, kobliah juma’at, shalat Jumat, ba’diah jum’at, shalat zuhur, hingga ba’diah zuhur.

Masjid ini memiliki empat orang muazin yang berpakaian sama dengan imam, menggunakan baju lengan panjang warna putih, menggunakan udeng bermotif batik, dan ke empat muazin tersebut mengumandangkan azan secara bersamaan.

Masjid Saka Tunggal Baitussalam hingga saat ini masih mempertahankan tradisi untuk tidak menggunakan pengeras suara. Meski demikian suara adzan yang dilantunkan oleh empat muadzin sekaligus, tetap terdengar begitu lantang dan merdu.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement