Situasi tersebut menjadi catatan khusus bagi Kementerian Kesehatan bahwa untuk menemukan kasus tuberkulosis, harus melakukan penelusuran secara aktif di masyarakat. Namun, pelacakan kasus tuberkulosis saat pandemi covid-19 perlu mengikuti protokol kesehatan untuk kegiatan yang sifatnya aktif di masyarakat.
"Hanya 24 persen orang yang akan mengakses layanan kesehatan untuk TB. Ditambah pandemi, tentunya angka ini semakin menurun karena mungkin ada rasa takut datang ke fasyankes," katanya.
Baca juga: Selama Pandemi, Data Pelaporan Kasus Tuberkulosis di Indonesia Menurun
Acara Pekan Temu Berbagi Pengetahuan untuk Sejawat (TBPS) yang melibatkan Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), serta perwakilan rumah sakit swasta dimaksudkan untuk menjalin sinergi untuk bersama-sama mencapai Target Eliminasi Tuberkulosis 2030.
"Dari hasil laporan global TB 2020, Indonesia termasuk tiga negara dengan beban TB terbesar di dunia. Indonesia butuh penanganan yang komprehensif untuk mencapai eleminasi TB sesuai target pada 2030," pungkasnya.
(Hantoro)