Vaksin AstraZeneca tidak hanya diproduksi dari hasil kerjasama AstraZeneca dengan Universitas Oxford di Inggris. Namun nyatanya juga dikembangkan di beberapa negara lainnya, seperti oleh SKBioScience di Korea Selatan dan Serum Institute of India di India.
Sistem dan lisensi teknologi inilah yang disebut oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) sebagai langkah yang seharusnya diikuti oleh para produsen vaksin Covid-19 lainnya, agar kebutuhan vaksin Covid-19 di dunia bisa lebih cepat terpenuhi.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dengan gamblang menyerukan agar lebih banyak produsen vaksin Covid-19 lainnya, yang mengadopsi model ini untuk meningkatkan pasokan, termasuk untuk program berbagi vaksin Covid-19 WHO, COVAX yang berupaya untuk bisa mempercepat lebih banyak suplai vaksin Covid-19 ke negara-negara berkembang dan miskin di dunia.
“Jurang antara angka orang yang sudah divaksin di negara-negara kaya dengan jumlah angka yang yang diberikan melalui program COVAX itu semakin hari semakin tumbuh jadi ketidakadilan yang aneh,” Tedros dalam konferensi pers, dikutip Reuters, Selasa (23/3/2021).